Senin, 09 Feb 2026
LidahRakyat | Aspirasi, Berani dan Aksi
Zainullah dan Cahaya Kecerdasan dari Timur: Filosofi Inovasi di Balik Best Applied AI Design
Inspirasi Indonesia Maju
Penulis: Dewi Farah*
Analisis - 01 Feb 2026 - Views: 437
image empty
Dok. lidahrakyat.com
Zainullah Guru Penggerak dan Tim dari Tiangong University dan Tianjin University di Jakarta.

LIDAHRAKYAT.COM - Di ufuk timur Pulau Madura, di antara desir angin laut dan lantunan doa dari surau-surau kecil, lahir seorang pemuda yang menyalakan lentera ilmu di tengah arus zaman digital. Namanya Zainullah, pemuda berbakat kelahiran kota keris Sumenep Madura yang menorehkan prestasi gemilang di kancah nasional dengan meraih penghargaan Best Applied AI Design dalam ajang bergengsi yang diselenggarakan oleh Kemendikdasmen bekerja sama dengan Tiangong University dan Tianjin University di Jakarta.

Dari ratusan peserta yang berkompetisi, hanya tiga puluh terbaik yang terpilih untuk mengikuti pelatihan intensif hingga 31 Januari 2026. Namun, di antara tiga puluh bintang itu, sinar Zainullah berpendar paling terang. Ia bukan hanya peserta, melainkan simbol dari semangat pembelajaran tanpa batas. Penghargaan yang diserahkan langsung oleh Prof. Wang Xi dari Tiangong University menjadi saksi bahwa kecerdasan tidak mengenal batas geografis; dari tanah garam dan tembakau, lahir pemuda yang mampu menaklukkan algoritma dan logika buatan.

Filosofi di balik pencapaian ini bukan sekadar tentang teknologi, melainkan tentang harmoni antara akal dan nilai. Dalam dunia yang kian dikuasai mesin, Zainullah menghadirkan wajah kemanusiaan dalam kecerdasan buatan. Ia memahami bahwa Artificial Intelligence (AI) bukan hanya tentang kode dan data, tetapi juga tentang bagaimana teknologi dapat menjadi sahabat bagi pendidikan, bukan pengganti manusia.

Pelatihan yang diadakan oleh Kemendikdasmen bersama universitas ternama Tiongkok itu menjadi wadah pertemuan antara ilmu dan nilai. Di sana, para peserta tidak hanya belajar merancang sistem cerdas, tetapi juga menanamkan etika dalam setiap baris algoritma. Zainullah, dengan ketekunan khas santri Madura, menjadikan AI bukan sekadar alat, melainkan jalan menuju kemaslahatan.

Ketika penghargaan Best Applied AI Design disematkan kepadanya, sejatinya itu bukan hanya pengakuan atas karya, tetapi juga atas filosofi hidup yang ia bawa: bahwa ilmu harus berpihak pada kemanusiaan. Dalam setiap rancangan AI yang ia buat, terselip semangat untuk menjadikan teknologi sebagai jembatan antara guru dan murid, antara pengetahuan dan kebijaksanaan.

Kini, bersama dua puluh sembilan peserta terbaik lainnya, Zainullah tergabung dalam komunitas “Guru Penggerak AI Indonesia”, sebuah wadah yang dibentuk oleh Kemendikdasmen untuk terus mengembangkan inovasi kecerdasan buatan di dunia pendidikan. Komunitas ini menjadi taman ide, tempat di mana teknologi dan nilai-nilai luhur bangsa berkelindan dalam satu tarikan napas.

Zainullah, yang merupakan salah satu guru penggerak di SMKN 2 ini adalah cermin dari generasi baru Madura — generasi yang tidak hanya pandai membaca kitab, tetapi juga mahir membaca kode; yang tidak hanya menafsirkan ayat-ayat langit, tetapi juga menafsirkan algoritma bumi. Ia membuktikan bahwa dari tanah yang sederhana dapat tumbuh pemikiran yang mendunia.

Dalam dirinya, ilmu dan iman berpadu seperti dua sisi mata uang yang saling melengkapi. Ia mengajarkan bahwa kemajuan teknologi tidak harus mengikis spiritualitas, dan bahwa kecerdasan buatan sejati adalah ketika manusia mampu menggunakan teknologi untuk menumbuhkan kemanusiaan. Maka, kisah Zainullah bukan sekadar kisah kemenangan individu, melainkan kisah kebangkitan peradaban. Dari Pamekasan yang sunyi, lahir gema perubahan yang menggema hingga ke ruang-ruang akademik internasional. Ia adalah bukti bahwa cahaya ilmu dari timur tidak pernah padam — hanya menunggu waktu untuk kembali bersinar, menerangi dunia dengan kecerdasan yang berjiwa.


*Dewi Farah | Redaktur Lidahrakyat.com dan Anggota Satupena Jawa Timur

Tags
Zainullah