Minggu, 19 Apr 2026
LidahRakyat | Aspirasi, Berani dan Aksi
Teknologi: Berkah atau Malapetaka ?
Kerja Bersama Untuk Indonesia Maju
Penulis: Ariyanto Kristian Tena
Analisis - 05 Jul 2025 - Views: 627
image empty
Melkianus Pote Hadi
Melkianus Pote Hadi

LIDAHRAKYAT.COM - Perkembangan teknologi digital di era modern ini tak bisa dibendung. Setiap sudut kehidupan kini tersentuh oleh kemajuan teknologi, mulai dari komunikasi, transportasi, hingga dunia pendidikan. Namun di tengah puja-puji terhadap kemudahan yang ditawarkan, muncul keresahan yang kian terasa, khususnya dari mereka yang bergelut di dunia pendidikan dan literasi: Apakah teknologi benar-benar membawa kebaikan? Atau justru menyiapkan jalan menuju kemunduran generasi?

Saya, penulis, tak sekadar mengamati dari kejauhan. Dalam berbagai kesempatan berbincang dengan guru, wartawan, dan orang tua murid, ada benang merah dari kegelisahan mereka: minat baca masyarakat, khususnya generasi muda, menurun drastis. Toko-toko buku sepi. Perpustakaan nyaris kosong. Di ruang tunggu, bus, kapal, hingga ruang kelas, hampir semua mata tertuju ke layar ponsel, bukan ke lembar buku.

Minat Baca yang Tergusur Layar

Generasi yang lahir di era digital kini tumbuh dengan perangkat di tangan mereka sejak dini. Gadget menjadi teman setia, bahkan pengganti kegiatan bermain maupun belajar. Sayangnya, gadget bukan hanya alat bantu, tapi juga pengalih perhatian utama. Anak-anak dan remaja lebih tertarik membuka YouTube atau bermain gim ketimbang membaca. Padahal membaca, apalagi teks panjang, membutuhkan kesabaran, konsentrasi, dan keterampilan berpikir yang kompleks.

Gangguan dari notifikasi media sosial, video singkat yang adiktif, dan banjir informasi instan telah mengubah pola membaca masyarakat. Dari yang dulu terbiasa menyusuri paragraf demi paragraf, kini berpindah ke scroll tanpa arah.

Ironi di Tengah Kemajuan

Kita tentu tak menafikan bahwa teknologi membawa banyak kemudahan. Akses terhadap informasi menjadi lebih cepat, e-book dan audiobook menjangkau mereka yang jauh dari toko buku, dan banyak platform digital kini menyediakan ribuan buku secara gratis. Tapi justru karena kemudahan itulah, rasa effort dalam membaca pun ikut terkikis. Kemampuan berpikir mendalam bergeser menjadi konsumsi informasi cepat dan dangkal.

Yang lebih mengkhawatirkan, ketergantungan pada layar dapat membentuk generasi dengan kemampuan literasi rendah. Padahal, kemampuan membaca bukan sekadar soal mengenali huruf, tapi tentang memahami, menganalisis, dan menyaring informasi. Di sinilah bahaya terbesar tersembunyi.

Perlu Jalan Tengah: Literasi Digital dan Budaya Baca Tradisional

Teknologi bukan musuh. Ia adalah alat. Dan sebagaimana alat lainnya, dampaknya tergantung pada bagaimana ia digunakan. Kita tidak sedang dalam posisi untuk “menolak” teknologi. Tapi kita perlu menyeimbangkan. Budaya baca buku fisik tidak boleh dibiarkan mati. Anak-anak perlu diperkenalkan pada pengalaman membaca yang tidak selalu melibatkan layar. Orang tua dan guru harus aktif menciptakan lingkungan yang mendukung literasi, baik digital maupun konvensional.

Gunakan Teknologi untuk Membaca, Bukan Hanya Menonton

Banyak cara untuk mengubah arus ini. Gunakan aplikasi baca digital yang ramah anak. Berikan tantangan atau reward untuk menyelesaikan buku. Ajak anak-anak berdiskusi dari apa yang mereka baca. Gunakan teknologi untuk mendorong minat baca, bukan mengalihkannya. Selain itu, kampanye publik dan program literasi berbasis komunitas bisa menjadi jembatan untuk menghidupkan kembali budaya membaca. Pemerintah, pendidik, hingga orang tua harus berjalan seiring, karena yang dipertaruhkan adalah masa depan bangsa.

Di Tangan Kita Semua

Teknologi bukan malaikat, juga bukan iblis. Ia netral. Tetapi dampaknya terhadap generasi mendatang sangat tergantung dari keputusan kita hari ini.

Apakah kita memilih memanjakan generasi muda dengan kemudahan instan? Ataukah kita bersungguh-sungguh mendampingi mereka agar tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya melek teknologi, tapi juga melek literasi? Ke depan, pertanyaannya bukan lagi “siapa yang paling cepat”, tapi “siapa yang paling mampu berpikir kritis dan membaca secara mendalam di tengah kebisingan digital?”

 

*Penulis adalah Melkianus Pote Hadi, Aktivis Sosial