Sabtu, 23 May 2026
LidahRakyat | Aspirasi, Berani dan Aksi
SAUDARA/SAHABATKU TELAH KEMBALI MENGHADAP SANG PENCIPTA
Kehilangan Seorang Sahabat
Penulis: Oktovianus Arkyan Masan, S.Fil
Opini - 23 May 2026 - Views: 73
image empty
Dok.lidahrakyat.com, foto/Koka Masan
Keterangan Foto : Aktivis PMKRI Itu Telah Kembali — Selamat Jalan Saudara/Sahabatku Tonny Uspupu Komda Regio Timor PP PMKRI Santo Thomas Aquinas Periode 2024-2025 (Dok : Istimewa)

Sepujuk Puisi Terakhir Untuk Saudara/Sahabatku Almarhum Tonny Uspupu

LIDAHRAKYAT.COM — PUISI,—

Saudara, sahabatku telah kembali. Bukan kembali ke rumah yang dibangun tangan manusia, melainkan ke sunyi yang lebih tua dari waktu, ke pangkuan langit yang sejak awal menunggu namanya. Aku berdiri memandangi kehilangan, sementara angin mengajarkan bahwa setiap pertemuan selalu diam-diam sedang menuju perpisahan.

Filsafat mengajarkan bahwa hidup hanyalah persinggahan singkat di antara dua misteri: awal yang tidak pernah kita pilih, dan akhir yang tak pernah mampu kita tolak. Manusia berjalan di bumi seperti peziarah, membawa tawa, luka, cinta, dan dosa, lalu pulang ketika jam semesta selesai berbicara.

Kini aku mengerti, bahwa usia bukan tentang panjang pendeknya waktu, melainkan tentang seberapa dalam seseorang tinggal di hati orang lain. Sebab ada manusia yang hidup seratus tahun namun terlupakan, dan ada yang pergi terlalu cepat tetapi namanya tetap bernapas dalam ingatan.

Tuhan tidak pernah menciptakan perjumpaan secara sia-sia. Setiap sahabat adalah titipan, setiap pelukan adalah amanah, dan setiap kehilangan adalah cara langit mengajari manusia tentang arti berserah. Karena itu air mata bukan tanda kelemahan, melainkan bahasa jiwa saat menerima rahasia Ilahi.

Aku percaya, kematian bukan akhir dari keberadaan, tetapi pintu menuju kepulangan yang sejati. Tubuh memang rebah ke tanah, namun roh berjalan menuju cahaya yang tak dapat disentuh oleh dunia. Di sana, waktu tidak lagi menghitung luka, dan kesedihan tidak lagi mengenal nama.

Saudaraku, sahabatku telah kembali. Ia meninggalkan dunia seperti senja meninggalkan langit: perlahan, tenang, namun menyisakan warna yang membuat hati sulit melupakan. Dan kami yang tinggal hanyalah pejalan berikutnya, menunggu giliran pulang dengan cara yang tidak pernah kami ketahui.

Teologi mengajarkan bahwa manusia berasal dari kasih Tuhan dan akan kembali kepada kasih yang sama. Debu akan kembali menjadi debu, tetapi jiwa tidak pernah benar-benar mati. Karena Tuhan tidak menciptakan manusia untuk hilang di kegelapan, melainkan untuk kembali mengenal keabadian.

Maka hari ini aku tidak hanya berduka, aku juga belajar percaya. Bahwa doa mampu menyeberangi jarak yang tidak dapat ditempuh kaki manusia. Bahwa cinta persaudaraan tidak berhenti di liang lahat, karena kasih sejati selalu menemukan jalan untuk tetap hidup di hadapan Tuhan.

Di malam yang sunyi ini, aku membayangkan engkau telah tenang di sisi keabadian yang tak lagi mengenal sakit. Mungkin surga sedang membuka pintunya perlahan, dan para malaikat menyebut namamu dengan suara yang lebih lembut dari pada tangisan kami di bumi.

Saudara, sahabatku telah kembali. Dan kami yang masih tinggal akan melanjutkan perjalanan ini dengan hati yang lebih sadar bahwa hidup begitu rapuh. Kelak, ketika waktuku tiba, aku berharap dapat pulang dengan damai seperti dirimu, membawa iman, membawa kasih, dan meninggalkan jejak kebaikan bagi dunia yang sementara ini.

dari Saudara/Sahabatmu yang merindukanmu lewat air mata, yang sementara menerima peristiwa iman tentang kedukaan ini, doa yang tulus kupanjatkan dari Kuan Insana untuk perjalananmu menghadap Sang Pencipta. Selamat jalan saudara/sahabatku Tonny, terima kasih dan mohon maaf untuk semuanya!

 

Koka MS

(Kiupukan—Insana, 23 Mei 2026)

😭🥀🍂