Indonesia akhirnya menemukan solusi paling kreatif untuk mengurus sawit, batubara, dan ferroalloy. Solusinya, menyerahkan kunci gudang ke orang Australia. Kalau biasanya rakyat cuma titip sandal di masjid, kali ini negara titip komoditas strategis triliunan rupiah ke Luke Thomas Mahony. Siapakah bule ini? Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!. Pemerintah melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia alias PT DSI membentuk sistem baru yang konsepnya mirip warung grosir raksasa. Jadi begini, sir! Petani sawit, pengusaha batubara, dan produsen ferroalloy tetap produksi seperti biasa. Tapi yang ekspor? Satu pintu. Satu kasir. Satu penjaga gerbang. Penjaga gerbang itu dipimpin warga Australia.
DSI sendiri baru lahir 19 Mei 2026. Umurnya masih kalah tua dibanding inkrah-nya Razman Nasution. Tapi langsung diberi tugas jadi middleman ekspor komoditas strategis nasional. Semua produsen nanti jual ke DSI, lalu DSI yang ekspor ke luar negeri. Setelah itu uang dikembalikan lagi ke produsen setelah dipotong biaya. Persis seperti teman yang bilang, “Titip dulu duitmu sini, nanti kubalikin.” Kalimat yang dalam sejarah umat manusia sering berakhir dengan, “Bro, aku jelasin dulu ya…” Yang bikin publik melongo bukan cuma model bisnisnya, tapi bos besarnya, Luke Thomas Mahony. Warga negara Australia. Ditunjuk langsung dan dikonfirmasi oleh Rosan Roeslani. Di titik ini, sebagian rakyat mungkin mulai curiga jangan-jangan sidang direksi dilakukan sambil barbeque dan makan vegemite.
Tapi jangan salah. Luke bukan orang sembarangan. Curriculum vitae-nya panjang seperti utang negara berkembang. Ia lulusan Mining Engineering dari University of New South Wales Australia sekitar 1999–2002. Ada juga catatan ia punya Master Keuangan dan Master Teknik Pertambangan. Kalau rakyat bingung kenapa harga sawit naik turun, Luke mungkin bisa menjelaskan pakai grafik 3D sambil membuka peta geoteknik dan neraca ekspor global.
Pengalamannya juga kelas monster tambang internasional. Pernah di BHP Billiton. Pernah di Xstrata Coal. Pernah jadi petinggi PT Vale Indonesia Tbk sebagai Chief Strategy and Technical Officer sampai Juli 2025. Bahkan sebelumnya jadi Global Head of Technology & Innovation di Vale Base Metals. Jabatan yang kalau dibaca orang kampung terdengar seperti bos terakhir dalam game industri nikel. Luke juga pernah kerja di Australia, Kanada, Mozambik, Brasil, Jepang, Korea Selatan, Inggris, sampai Kaledonia Baru. Lengkap. Tinggal kurang pengalaman jadi ketua RT di Tanah Abang supaya netizen benar-benar tenang.
Pemerintah bilang penunjukan ini karena Luke punya pengalaman internasional dan rekam jejak global yang dibutuhkan untuk membangun sistem ekspor yang kredibel. Kalimat “kredibel di pasar global” ini terdengar sangat mewah. Biasanya muncul dalam seminar hotel dengan kopi gratis dan orang-orang pakai jas sambil ngomong “transformasi strategis” selama tiga jam tanpa ada yang benar-benar paham siapa transformasi dan strategi siapa.
DSI sendiri dirancang jadi BUMN model baru. Secara struktur, mayoritas saham dipegang PT Danantara Investment Management lewat saham Seri A. Negara punya saham Seri B sekitar 1 persen lewat Badan Pengaturan BUMN. Bentuknya unik. BUMN rasa private equity. Swasta rasa negara. Negara rasa holding. Holding rasa startup. Startup rasa kerajaan dagang VOC versi PowerPoint. Transisi dimulai Juni 2026. Operasional penuh direncanakan September 2026 atau Januari 2027. Artinya beberapa bulan ke depan rakyat akan melihat eksperimen ekonomi paling absurd.
Lucunya, di negeri yang debat soal tenaga kerja asing bisa lebih panas dari harga cabai, kini ekspor sawit nasional malah dipimpin ekspatriat Australia. Ini seperti supporter bola fanatik tiba-tiba menunjuk wasit rival jadi pelatih kepala. Secara teori mungkin profesional. Secara emosi, rakyat langsung pasang muka detektif Conan.
Publik mulai bertanya-tanya dengan nada lirih penuh kecurigaan, “Kita ini sedang membangun kedaulatan ekonomi… atau lagi outsourcing negara?”
“Bang, bukannya orang kita jago-jago soal ekspor sawit. Kenapa mesti diserahkan ke bule Australia itu.”
“Mungkin saja bule itu antibocor, wak!” Ups
3.25K
141