Minggu, 23 Aug 2026
LidahRakyat | Aspirasi, Berani dan Aksi
Resmi Pimpin PMKRI Atambua, Simplysius Ajak Kader Bergerak Bersama untuk Gereja dan Tanah Air
Kepengurusan baru PMKRI Atambua berkomitmen memperkuat kaderisasi, menjadi mitra kritis pemerintah, serta menghadirkan karya nyata bagi Gereja, masyarakat, dan bangsa.
Penulis: Oktovianus Arkyan Masan, S.Fil
Peristiwa - 22 Aug 2026 - Views: 44
image empty
dok.lidahrakyat.com/Koka Masan
Keterangan foto: Simplysius Imanuel Mau resmi dilantik sebagai Ketua Presidium PMKRI Cabang Atambua St. Yohanes Paulus II Periode 2026/2027 di Aula Dharma Wanita Betelalenok, Atambua, Kamis, (20/8/2026). (Dokumentasi : Koka Masan//Lidah Rakyat)

LIDAHRAKYAT.COM — ATAMBUA,— Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Atambua St. Yohanes Paulus II resmi memiliki kepengurusan baru untuk periode 2026/2027. Pelantikan Mandataris RUAC/Formatur Tunggal/Ketua Presidium dan Dewan Pimpinan Cabang (DPC) berlangsung di Aula Dharma Wanita Betelalenok, Atambua, Kamis (20/8/2026).

Prosesi pelantikan dihadiri Wakil Bupati Belu, Vicente Hornai Gonsalves, ST, Kapolres Belu, unsur Forkopimda Kabupaten Belu, rohaniwan Katolik, senior dan alumni PMKRI, organisasi kepemudaan dan kemasyarakatan, organisasi Cipayung Plus, serta keluarga besar PMKRI Cabang Atambua. Kehadiran berbagai elemen tersebut menjadi penanda pentingnya peran PMKRI dalam kehidupan Gereja, masyarakat dan daerah.

Dalam momentum tersebut, Simplysius Imanuel Mau resmi menerima mandat sebagai Mandataris RUAC/Formatur Tunggal/Ketua Presidium PMKRI Cabang Atambua St. Yohanes Paulus II Periode 2026/2027. Ia dipercaya membawa organisasi mahasiswa Katolik tersebut melanjutkan karya dan perjuangan dengan mengusung tema “Bergerak Bersama, Berdampak Nyata untuk Gereja dan Tanah Air.”

Dalam pidato perdananya, Simplysius menegaskan bahwa pelantikan bukan sekadar seremoni pergantian kepemimpinan. Menurut dia, pelantikan merupakan awal dari tanggung jawab baru untuk memastikan PMKRI tetap menjadi ruang pembelajaran, perjuangan dan pengabdian bagi kader. Kepemimpinan, katanya, bukan soal kedudukan, melainkan tentang tanggung jawab, keteladanan dan kesediaan untuk melayani.

Karena itu, kepengurusan baru berkomitmen membangun organisasi yang terbuka terhadap kritik, mengedepankan dialog dan menjalankan setiap keputusan secara bertanggung jawab. Simplysius mengajak seluruh kader meninggalkan sekat-sekat perbedaan dan menjadikan PMKRI sebagai rumah bersama untuk belajar, berdiskusi, bertumbuh serta mempersiapkan diri menjadi generasi yang mampu menjawab tantangan zaman.

Penguatan internal dan kaderisasi menjadi salah satu agenda utama kepengurusan periode 2026/2027. Program pendidikan kader, diskusi, kajian, pengembangan kapasitas dan kegiatan sosial akan diperkuat agar PMKRI tidak hanya aktif secara organisasi, tetapi juga mampu melahirkan kader yang memiliki kapasitas intelektual, integritas moral dan kepekaan sosial.

Simplysius juga mengingatkan bahwa dinamika internal organisasi merupakan bagian dari proses pendewasaan. Perbedaan pandangan tidak boleh menjadi alasan untuk memecah persaudaraan. Sebaliknya, setiap persoalan harus diselesaikan melalui komunikasi, dialog dan semangat fraternitas dengan tetap berpegang pada konstitusi serta mekanisme organisasi.

Di tengah kehidupan masyarakat, PMKRI Cabang Atambua juga menyatakan kesiapan menjadi mitra kritis dan konstruktif bagi Pemerintah Kabupaten Belu. Kritik, kata Simplysius, tidak boleh dimaknai sebagai permusuhan, tetapi sebagai bentuk kepedulian dan tanggung jawab moral mahasiswa terhadap masyarakat. Karena itu, PMKRI akan mendorong kajian, penyampaian aspirasi dan gagasan yang tidak berhenti pada kritik, tetapi juga menawarkan solusi.

Pesan serupa disampaikan perwakilan FORKOMA PMKRI Belu, Oktavianus Fatin. Ia memberikan apresiasi kepada kepengurusan baru dan mengingatkan seluruh pengurus untuk menjaga persaudaraan, kekompakan serta nama baik organisasi. Ia berharap PMKRI tetap eksis, aktif dalam berbagai kegiatan dan terus membangun relasi yang baik dengan Gereja, pemerintah, masyarakat, senior dan alumni. FORKOMA, lanjutnya, siap memberikan dukungan serta masukan bagi kepengurusan baru.

Dukungan terhadap eksistensi PMKRI juga datang dari rohaniwan Katolik yang hadir dalam pelantikan. PMKRI diharapkan tidak hanya aktif dalam kehidupan organisasi, tetapi juga semakin dekat dengan Gereja dan mengambil bagian dalam karya pelayanan, khususnya pembinaan kaum muda Katolik. Hubungan dengan para rohaniwan dan institusi Gereja dinilai perlu terus dirawat melalui komunikasi, kolaborasi dan keterlibatan nyata dalam berbagai kegiatan pastoral.

Sementara itu, Wakil Bupati Belu, Vicente Hornai Gonsalves menegaskan bahwa amanah yang diterima pengurus PMKRI bukan sekadar kehormatan, melainkan tanggung jawab moral untuk berkontribusi bagi daerah. Sebagai generasi muda yang hidup di wilayah perbatasan, mahasiswa memiliki posisi strategis dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia sekaligus mengambil bagian dalam pembangunan Kabupaten Belu.

Vicente mendorong PMKRI agar tidak berhenti sebagai kelompok yang kritis, tetapi mampu menghadirkan gagasan dan solusi atas persoalan masyarakat.

“Jangan menjadi generasi muda yang hanya pandai mengkritik, tetapi jadilah generasi yang mampu menawarkan solusi. Jangan hanya menjadi penonton pembangunan, tetapi jadilah pelaku pembangunan,” tegasnya. 

Ia menambahkan, pemerintah tidak dapat bekerja sendiri sehingga partisipasi mahasiswa dan seluruh elemen masyarakat sangat dibutuhkan untuk membangun Belu yang maju, mandiri dan berdaya saing.

Bagi Simplysius, semangat Pro Ecclesia et Patria harus diterjemahkan ke dalam kerja nyata, bukan sekadar menjadi semboyan organisasi. PMKRI harus hadir untuk Gereja melalui pelayanan, hadir untuk masyarakat melalui kepedulian, serta hadir untuk bangsa dan tanah air melalui intelektualitas, keberanian dan tanggung jawab. Dampak nyata itu dapat dimulai dari langkah sederhana: mendengar persoalan masyarakat, memberikan edukasi, melakukan kegiatan sosial, menyampaikan kritik berbasis data dan menghadirkan gagasan yang bermanfaat.

Menutup pidatonya, Simplysius mengajak seluruh kader PMKRI Cabang Atambua bergerak dalam satu semangat dan satu tujuan.

“Setiap program organisasi harus memiliki manfaat. Setiap kritik harus memiliki dasar. Setiap perjuangan harus dilakukan dengan cara yang bermartabat. Dan setiap amanah harus dipertanggungjawabkan melalui karya,” ujarnya.

Ia pun menyampaikan terima kasih kepada Gereja, para romo, senior dan alumni, Pemerintah Kabupaten Belu, Forkopimda, organisasi kepemudaan dan kemasyarakatan, panitia serta seluruh pihak yang telah mendukung PMKRI.

Pelantikan tersebut menjadi titik awal bagi kepengurusan PMKRI Cabang Atambua St. Yohanes Paulus II Periode 2026/2027 untuk meneguhkan kembali jati diri organisasi sebagai wadah pembinaan mahasiswa Katolik yang berpijak pada persaudaraan, pelayanan dan pengabdian. Di bawah kepemimpinan Simplysius Imanuel Mau, PMKRI Atambua membawa tekad untuk tidak sekadar hadir dalam ruang-ruang organisasi, tetapi bergerak bersama dan menghadirkan dampak nyata bagi Gereja, masyarakat, daerah dan tanah air. Pro Ecclesia et Patria! Berkarya dengan Umat, Berjuang dengan Rakyat. (*)

 

Editor: Oktovianus Arkyan Masan, S.Fil