Senin, 08 Jun 2026
LidahRakyat | Aspirasi, Berani dan Aksi
Profesor Pertama Asal Ile Ape Dikukuhkan, Keluarga Lembata Jabodetabek Gelar Syukuran
Inspirasi Hidup
Penulis: Meja Redaksi Lidah Rakyat
Sorot - 08 Jun 2026 - Views: 6
image empty
Foto: Prof. Dr. Drs. Thomas Tokan Pureklolon, M.Si, MM, M.Phil.

LIDAHRAKYAT.COM – Warga Ile Ape se-Jabodetabek menggelar syukuran atas pencapaian akademik Prof. Dr. Drs. Thomas Tokan Pureklolon, M.Si, MM, M.Phil., yang dikukuhkan sebagai guru besar pertama asal Ile Ape. Acara berlangsung Sabtu 30/5/2026 di Aula SD Santo Antonius, Matraman Raya, Jakarta.

Syukuran diawali seremoni adat yang dipimpin Ama Jerry Sabaleku. Group tari Hedung Atadei pimpinan Ama Damian N. Koban mengarak rombongan ke aula. Acara dilanjutkan Perayaan Ekaristi Kudus yang dipimpin dua imam asal Ile Ape.

Hadir warga Ile Ape se-Jabodetabek dan perwakilan sembilan kecamatan se-Kabupaten Lembata. Sejumlah undangan khusus juga tampak, antara lain pengacara Petrus Bala Patyona, S.H., M.H., pengacara Jou Hasyim Waimahing, S.H., Pit Manuk, Ben-Hur, Robert Bala Tolok, Alex Aur Apelabi, Benyamin Molan Amuntoda, dan Ansel Deri.

Haji Sulaeman L. Hamzah, Anggota DPR RI dapil NTT II asal Desa Lewotolok/Akakaka, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas pencapaian Prof. Thomas. Ia menyebut Lembata sudah mempersembahkan sejumlah guru besar untuk Indonesia.

“Mereka adalah Prof. Dr. Gorys Keraf, maestro bahasa Indonesia asal Lamalera; Prof. Dr. Aloysius Liliweri, M.S., asal Leunapo, Kedang, kini Rektor Universitas Stela Maris Weetabula; Prof. Dr. Yoseph Yapi Taum, M.Hum., asal Ataili, Wulandoni, sastrawan dan guru besar Universitas Sanata Dharma; Prof. Dr. H. Abd. Rahman, S.H., M.H., M.Ag., asal Kalikur, Kedang, mantan rektor Universitas 45 Makassar; dan Prof. Dr. Drs. Thomas Tokan Pureklolon, M.Si, MM, M.Phil., dari Universitas Pelita Harapan,” ujar Sulaeman.

Dalam sambutan yang sama, Sulaeman juga mengingatkan sosok Petrus Gute Betekeneng. Menurutnya, Petrus merupakan pelopor dan inisiator Otonomi Lembata serta pencetus Statement 7 Maret 1954 yang menjadi tonggak persatuan Lomblen. Lembata kemudian resmi menjadi kabupaten mandiri pada 1999.

“Dengan semakin banyak orang Lembata yang pintar dan hebat dari berbagai disiplin ilmu saat ini, diharapkan juga dapat bersatu untuk berkontribusi nyata bagi pembangunan kampung halaman, Lewotana Lembata,” katanya.

Sulaeman menutup sambutan dengan pesan singkat: “Berikan setetes untuk Lewotana setiap apa yang engkau makan.” Ia juga menyerahkan buku “Lembata Dalam Pergumulan Sejarah dan Perjuangan Otonominya” kepada Prof. Thomas.

Acara yang dijuru-gani Lambert Donin Watun ditutup dengan resepsi, ramah tamah dan bajoget bersama.