LIDAHRAKYAT.COM Di tengah hiruk-pikuk dunia modern yang kian menyesakkan, bumi seolah bernafas tersengal. Hutan-hutan menipis, udara menua, dan tanah kehilangan nadinya. Disela keletihan bumi itu, tumbuh secercah harapan dari tangan-tangan kecil yang menanam masa depan. Harapan itu lahir dari gerakan Satu Juta Pohon Sedunia, yang digerakkan oleh OISCA Indonesia bersama sekolah-sekolah binaan CFP (Children’s Forest Program)—sebuah gerakan yang bukan hanya menumbuhkan bumi, tetapi juga mendidik hati.
Pohon: Sekolah Kehidupan yang Tak Pernah Letih Mengajar
Dalam pandangan ilmiah, pohon adalah sistem kehidupan yang paling sempurna. Ia menyerap karbon dioksida, menghasilkan oksigen, menahan erosi, dan menjaga keseimbangan air tanah. Namun di balik fungsi ekologisnya, pohon adalah guru yang sabar. Ia mengajarkan tentang keteguhan, tentang bagaimana berdiri tegak meski diterpa badai, dan tentang memberi tanpa meminta balasan.
Melalui program Children’s Forest Program (CFP) yang digagas oleh OISCA, anak-anak diajak untuk tidak hanya menanam pohon, tetapi juga menanam nilai. Mereka belajar bahwa menjaga bumi bukan tugas orang dewasa semata, melainkan tanggung jawab bersama. Sekolah menjadi laboratorium kecil tempat ilmu pengetahuan berpadu dengan cinta lingkungan.
Dari Madura, Tumbuh Harapan untuk Dunia
Di tanah Madura yang dikenal dengan panasnya matahari dan kerasnya angin timur, tumbuhlah semangat hijau yang menyejukkan. Salah satu sekolah yang menjadi pelopor gerakan ini adalah SDN Lembung Galis, Pamekasan. Sekolah ini bukan hanya menanam pohon, tetapi juga menanam kesadaran ekologis di dada para siswanya.
Anak-anak SDN Lembung Galis kini menjadi Duta CFP 2025, simbol dari generasi baru yang mencintai bumi dengan ilmu dan tindakan. Mereka menanam bibit bukan sekadar untuk penghijauan, tetapi sebagai bentuk doa yang ditanamkan ke tanah. Setiap batang yang tumbuh adalah harapan, setiap daun yang mekar adalah pelajaran tentang kehidupan.
Secara ilmiah, kegiatan ini menumbuhkan environmental literacy—kemampuan memahami, menganalisis, dan bertindak terhadap isu lingkungan secara bijak. Namun secara moral, kegiatan ini menumbuhkan empati ekologis: rasa cinta terhadap bumi yang melahirkan kesadaran untuk bertindak.
Menanam Ilmu, Menuai Kesadaran
Gerakan menanam satu juta pohon bukan hanya kegiatan simbolik, tetapi juga bentuk pendidikan ekologis yang konkret. Dalam pendekatan ilmiah, kegiatan ini menumbuhkan kesadaran ekologis (ecological awareness) sejak dini. Anak-anak belajar mengenal jenis tanah, memahami siklus air, dan mengamati proses fotosintesis bukan hanya dari buku, tetapi dari kehidupan nyata.
Mereka menyentuh bumi, mencium aroma humus, dan melihat bagaimana kehidupan tumbuh dari kesabaran. Pohon-pohon itu menjadi laboratorium alami yang mengajarkan sains dengan bahasa alam. Di bawah rindangnya daun, anak-anak belajar bahwa ilmu pengetahuan sejati bukan hanya tentang angka dan rumus, tetapi tentang rasa hormat terhadap kehidupan.
Kolaborasi yang Menyatu dalam Akar
Kolaborasi antara OISCA Indonesia, DLH Pamekasan, dan sekolah-sekolah binaan CFP adalah contoh nyata dari sinergi lintas sektor yang berorientasi pada keberlanjutan. OISCA membawa pengalaman global dalam pendidikan lingkungan, DLH menghadirkan kebijakan dan dukungan lokal, sementara sekolah menjadi ruang tumbuhnya generasi hijau yang sadar lingkungan.
Dalam bahasa ilmiah, kolaborasi ini menciptakan model ekosistem sosial-lingkungan—sebuah sistem di mana manusia, lembaga, dan alam saling berinteraksi dalam keseimbangan. Dalam bahasa sastra, kolaborasi ini adalah akar-akar yang saling bertaut di bawah tanah, menguatkan batang kehidupan agar tetap tegak di tengah badai perubahan zaman.
Dari Bibit ke Bumi, Dari Anak ke Peradaban
Gerakan ini bukan sekadar menanam pohon, tetapi menanam peradaban. Pohon-pohon yang tumbuh di halaman sekolah bukan hanya menghasilkan oksigen, tetapi juga menumbuhkan karakter. Anak-anak belajar tentang kesabaran dari proses tumbuhnya bibit, tentang tanggung jawab dari kewajiban merawatnya, dan tentang keikhlasan dari pohon yang memberi tanpa meminta.
Dalam konteks ilmiah, kegiatan ini mendukung Sustainable Development Goals (SDGs). Namun dalam konteks kemanusiaan, kegiatan ini adalah bentuk cinta yang paling murni—cinta kepada bumi yang telah memberi segalanya tanpa pernah menuntut balasan.
Hijau yang Menyebar, Harapan yang Menular
Dari Madura, gerakan ini menyebar seperti angin yang membawa benih kehidupan. Sekolah-sekolah lain mulai terinspirasi, masyarakat mulai tergerak, dan pemerintah daerah semakin memperkuat komitmen terhadap pelestarian lingkungan.
Pohon-pohon yang tumbuh di halaman sekolah kini menjadi saksi bisu dari perubahan besar yang dimulai dari langkah kecil. Mereka berdiri tegak, meneduhkan, dan berbisik lembut kepada dunia: bahwa bumi masih punya harapan, selama manusia masih mau menanam.
Pamekasan, 2026
*Dewi Farah | Redaktur lidahrakyat.com | Anggota Satu Pena Jawa Timur
3.09K
141