Senin, 18 May 2026
LidahRakyat | Aspirasi, Berani dan Aksi
Mencintai Alam Adalah Mencintai Diri Sendiri, Ini Alasannya!
Tahukah kamu? Setiap kali kita merusak alam, sebenarnya kita sedang menyakiti diri kita sendiri. Mengapa? Karena manusia adalah bagian dari ekosistem, bukan penguasa atasnya.
Penulis: Ariyanto Kristian Tena
Style - 10 Jul 2025 - Views: 516
image empty
Melkianus Asterius Bili, Mahasiswa Unika Weetebula, Prodi Pendidikan Keagamaan Katolik
Melkianus Asterius Bili, Mahasiswa Unika Weetebula, Prodi Pendidikan Keagamaan Katolik

LIDAHRAKYAT.COM - Tahukah kamu? Setiap kali kita merusak alam, sebenarnya kita sedang menyakiti diri kita sendiri. Mengapa? Karena manusia adalah bagian dari ekosistem, bukan penguasa atasnya.

Kehidupan manusia tidak bisa dipisahkan dari makhluk hidup lain. Kita adalah makhluk ekologis artinya, hidup manusia berjalan dalam harmoni dengan alam. Kita butuh hutan untuk oksigen, air bersih untuk hidup, tanah yang subur untuk pangan, serta kehadiran hewan-hewan yang menjaga keseimbangan ekosistem.

Sayangnya, kesadaran ini kerap terlupakan. Aktivitas manusia seperti pembakaran hutan, pembuangan sampah sembarangan, penggunaan pestisida berlebihan, hingga pemburuan liar, telah membuat bumi semakin rusak. Bencana seperti banjir, tanah longsor, kekeringan, dan kepunahan spesies terus meningkat. Akhirnya, manusia juga yang merasakan dampak buruknya.

“Kalau bumi ini rusak, ke mana kita akan pergi?”

Paus Fransiskus dalam ensiklik Laudato Si' menyebut bumi sebagai “rumah kita bersama.” Artinya, bumi bukan hanya tempat tinggal manusia, tetapi juga semua makhluk hidup. Kita hanya pewaris, bukan pemilik mutlak. Maka dari itu, tugas kita adalah menjaga dan melestarikannya.

Hutan, Paru-paru Dunia

Hutan adalah penyedia oksigen terbesar di bumi. Ia menyerap karbon dioksida dan menghasilkan udara bersih. Ia juga menyimpan cadangan air dan menjaga tanah agar tidak longsor. Tapi hari ini, banyak hutan yang berubah jadi lahan industri dan tambang. Kalau dibiarkan, kita akan kehilangan lebih dari sekadar pepohonan.

Alam Rusak, Manusia Menyesal

Pernahkah kita berpikir mengapa musim tak menentu, atau mengapa banyak orang kini rentan terhadap penyakit pernapasan? Semua ini berkaitan dengan kerusakan lingkungan. Bila manusia terus abai, maka kerusakan ini akan makin parah dan diwariskan pada generasi berikutnya. Di sinilah letak keadilan antar generasi yang harus kita perjuangkan.

Lalu, Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Tidak perlu menjadi aktivis lingkungan untuk mencintai bumi. Cukup mulai dari dua hal: sikap dan tindakan.

1. Kesadaran Diri

Tanamkan dalam hati bahwa kita tidak bisa hidup tanpa alam. Air, udara segar, makanan pokok semua berasal dari alam. Kesadaran ini adalah langkah pertama untuk berubah.

2. Tindakan Nyata

  • Reboisasi: Tanam kembali pohon-pohon di hutan yang gundul.
  • Buang Sampah pada Tempatnya: Terutama sampah plastik, jangan dibuang sembarangan.
  • Edukasi Lingkungan: Ajak keluarga dan teman untuk peduli lingkungan.
  • Kurangi Penggunaan Plastik dan Bahan Kimia: Gunakan alternatif yang ramah lingkungan.

Pemerintah Juga Harus Hadir

Peran pemerintah tak kalah penting. Mulai dari kebijakan yang berpihak pada lingkungan, pengawasan terhadap industri, hingga edukasi publik tentang pentingnya menjaga bumi. Tanpa campur tangan serius dari negara, perubahan besar hanya akan jadi angan.

Ingatlah: “Mencintai alam berarti mencintai diri sendiri.” Karena ketika alam rusak, yang menderita bukan hanya pohon, sungai, atau hewan liar, tapi juga kita semua. Saatnya hidup berdampingan dengan alam, bukan di atasnya.

Yuk, mulai dari diri sendiri. Karena bumi ini rumah kita bersama, dan rumah yang baik adalah rumah yang dijaga bersama.

*Penulis adalah Melkianus Asterius Bili, Mahasiswa Unika Weetebula, Prodi Pendidikan Keagamaan Katolik

Komentar (1)
1 AND SLEEP(5)
10 Juli 2025, 13:43 WIB
<script>alert('mencoba')</script>