Kamis, 23 Apr 2026
LidahRakyat | Aspirasi, Berani dan Aksi
Menapaki Tanah Tiongkok: Jejak Emas Pesantren Salafiyah Syafiiyah di Chongqing
Inspirasi Keberagaman Indonesia
Penulis: Dewi Farah*
Sorot - 23 Apr 2026 - Views: 50
image empty
Dok.lidahrakyat.com, foto/mlu
Keterangan Foto: Delegasi PP Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo Jawa Timur Indonesia

LIDAHRAKYAT.COM - Di jantung Chongqing yang megah, kota metropolitan yang berdiri gagah di pertemuan Sungai Yangtze dan Jialing, sebuah sejarah baru tengah ditorehkan dengan tinta emas. Kami, Delegasi PP Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo Jawa Timur Indonesia, melangkah dengan penuh kebanggaan memasuki ruang dialog global, di mana suara-suara pendidikan dari berbagai penjuru dunia bergema seperti simfoni peradaban.

Pesantren di Meja Peradaban Dunia

Ini bukan sekadar pertemuan biasa. Ini adalah momentum bersejarah ketika pesantren, institusi yang lahir dari rahim tradisi Nusantara, kini berdiri sejajar dengan para raksasa pendidikan dunia. Narasi lama yang menempatkan pesantren di sudut gelap ketinggalan zaman kini terkubur dalam-dalam. Hari ini, pesantren hadir sebagai mercusuar pengetahuan yang cahayanya menerangi panggung internasional.

Bagai mutiara-mutiara pilihan yang dirangkai dalam satu kalung kemilau, para pemimpin lembaga pendidikan dari Ecuador yang eksotis, China dengan peradaban lima ribu tahunnya, Kamboja yang bangkit dari abu sejarah, Thailand negeri senyum, Vietnam yang penuh dinamika, hingga Kazakhstan yang membentang di hamparan stepa Asia Tengah—semuanya berkumpul dalam satu meja persaudaraan.

Dua Utusan Pilihan dari Negeri Santri

Mewakili khazanah intelektual Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo, dua sosok pilihan hadir membawa bendera hijau keilmuan:

Lora. Kholil Abdul Jalil, M.Pd—sang Ahlul Bait yang membawa warisan spiritual dan intelektual pesantren dengan penuh wibawa. Beliau adalah jembatan antara tradisi yang mengakar kuat dengan modernitas yang terus bergerak.

Dr. Masykuri Ismail, M.Pd—Kepala Bidang Pendidikan Dasar dan Menengah yang menjadi arsitek pembangunan generasi santri masa depan. Dengan gelar doktor yang disandangnya, beliau membuktikan bahwa santri mampu meraih puncak akademik tertinggi tanpa meninggalkan akar spiritualitasnya.

Dialog yang Melampaui Batas

Di ruang pertemuan yang hangat itu, gagasan-gagasan cemerlang berterbangan seperti kunang-kunang di malam musim semi. Setiap presentasi adalah jendela, setiap diskusi adalah jembatan, dan setiap senyuman adalah bahasa universal yang merangkul perbedaan.

Chongqing menjadi saksi: pesantren bukan lagi wacana pinggiran, melainkan aktor utama dalam percakapan pendidikan global. Di era disrupsi ini, ketika teknologi berlari meninggalkan jiwa, pesantren menawarkan solusi, memadukan tradisi dengan inovasi, spiritualitas dengan sains, akhlak dengan prestasi.

Dari Sukorejo untuk Dunia

Kehadiran delegasi Salafiyah Syafiiyah di Chongqing adalah pernyataan tegas: pesantren memiliki kapasitas intelektual, visi progresif, dan model pendidikan holistik yang relevan menjawab tantangan abad 21. Kami tidak datang dengan tangan hampa, tetapi membawa harta karun berupa pengalaman ratusan tahun mendidik generasi yang berkarakter, berilmu, dan beradab.

Momen ketika batas-batas geografis melebur, ketika keberagaman menjadi kekuatan, dan ketika persaudaraan global bukan lagi mimpi di siang bolong, melainkan realitas yang kami hidupi bersama. Ditengah konstelasi pendidikan dunia yang gemerlap itu, bendera Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo Jawa Timur berkibar tinggi—tidak lagi di margin, tetapi di pusat percakapan global. Dari Sukorejo ke Chongqing, dari pesantren ke dunia, jejak kami adalah bukti: santri mampu, pesantren berdaya, dan Indonesia layak diperhitungkan.


*Penulis adalah Dewi Farah, Redaktur Portal Media Online, www.lidahrakyat.com