Kamis, 23 Apr 2026
LidahRakyat | Aspirasi, Berani dan Aksi
Makassar, Sebuah Gerakan Dari Responsif ke Preventif, Menyelamatkan Nyawa di Persimpangan Jalan
Inspirasi Indonesia Maju
Penulis: Meja Redaksi Lidah Rakyat
Sorot - 23 Apr 2026 - Views: 9
image empty
Dok.lidahrakyat.com, foto. km

LIDAHRAKYAT.COM – Jalanan bukan lagi sekadar arena lalu lintas, melainkan medan pertempuran melawan angka kematian yang terus merangkak naik. Dalam upaya menjinakkan monster kecelakaan yang telah merenggut ribuan nyawa, Jasa Raharja menggelar Diskusi Keselamatan Transportasi yang mempertemukan unsur Penta Helix di Makassar, Senin (13/04/2026), sebuah forum yang menjadi jembatan emas menuju transformasi keselamatan transportasi dari yang semula responsif menjadi preventif berbasis data.

Direktur Utama Jasa Raharja, Muhammad Awaluddin, membuka tabir realitas yang mencengkeram: data Triwulan I 2026 mencatat nilai santunan di Sulawesi Selatan melonjak 11,14%, sementara kejadian kecelakaan membengkak 8% menjadi lebih dari 2.000 kasus. Angka yang bukan sekadar statistik dingin, melainkan cerminan air mata keluarga yang ditinggalkan. Secara nasional, lebih dari 151.000 kejadian kecelakaan dengan 217.000 korban per tahun menjadi alarm keras yang tak boleh lagi diabaikan.

"Kecelakaan bukan persoalan kehilangan nyawa semata, ini adalah gempa sosial-ekonomi yang mengguncang fondasi keluarga," tegas Awaluddin.

Sebagian besar korban adalah tulang punggung keluarga di usia produktif, yang kepergiannya meninggalkan lubang menganga dalam tatanan kehidupan. Jasa Raharja kini bertekad mengubah perannya dari sekadar penyalur santunan menjadi garda terdepan pencegahan, melalui pemetaan blackspot, edukasi tersegmentasi, dan peningkatan kapasitas respons pertama. Sebuah revolusi pendekatan yang menggeser paradigma dari menangani luka menjadi mencegah pedang jatuh.

Dirlantas Polda Sulsel, Kombes Pol. Pria Budi, membawa secercah harapan di tengah badai angka: meski kecelakaan meningkat 8%, fatalitas korban meninggal berhasil dipangkas 24%—dari 234 jiwa menjadi 179 jiwa. Namun, peta kecelakaan mengungkap pola yang mengkhawatirkan: 74?alah kecelakaan tunggal, 78% melibatkan sepeda motor, dan puncak kejadian terjadi pada sore hari di cuaca cerah dan jalan mulus, paradoks yang membuktikan bahwa bahaya tidak selalu datang dari kondisi ekstrem, melainkan dari kelengahan di tengah kenyamanan.

"Banyak nyawa yang hilang bukan karena benturan, tetapi karena jarum jam yang berdetak terlalu lambat dalam penanganan awal," ujar Pria Budi, menekankan pentingnya golden period—jendela waktu emas yang menjadi garis tipis antara hidup dan mati.

Dari sinilah lahir kesepakatan forum: penguatan edukasi di titik rawan, perluasan program E-PELANTAS, integrasi SIM-RS dengan JR Care untuk mempercepat Guarantee Letter, hingga pelatihan PPGD bagi komunitas pengemudi sebagai malaikat penolong pertama di aspal.

Forum yang menghadirkan jajaran stakeholder—dari Dirlantas Polda Sulsel, Dinas Pendidikan, Perhubungan, Kesehatan, hingga akademisi dari Unhas, Bosowa, Fajar, dan Handayani—ini bukan sekadar pertemuan seremonial, melainkan laboratorium kolaborasi yang melahirkan peta jalan keselamatan berbasis data lokal. Dinas Bina Marga berkomitmen memelihara 1.000 km jalan pada 2025–2027, sementara Dinas Perhubungan menambah koridor angkutan umum dari dua menjadi tiga—langkah konkret yang menjadi pondasi infrastruktur keselamatan.

Jasa Raharja menegaskan: keselamatan lalu lintas bukan puzzle yang bisa diselesaikan sepotong demi sepotong, melainkan mozaik raksasa yang membutuhkan setiap kepingan pemangku kepentingan untuk menyatu. Makassar kini berdiri di persimpangan—antara terus menjadi saksi bisu kematian di jalan, atau bangkit sebagai pelopor revolusi keselamatan yang menyelamatkan nyawa sebelum tragedi terjadi. Dan pilihan itu, dimulai hari ini