LIDAHRAKYAT.COM — KEFAMENANU,— Bupati Timor Tengah Utara (TTU), Yosep Falentinus Delasalle Kebo, S.IP., M.A., mengingatkan seluruh pemangku kepentingan di bidang kesehatan agar tidak memandang angka kematian ibu dan bayi semata sebagai data statistik.
Pesan tersebut disampaikan Bupati TTU saat membuka Rapat Perencanaan Tim Perencanaan dan Penganggaran Program Kesehatan Reproduksi Dinas Kesehatan Kabupaten TTU dalam upaya mempercepat penurunan angka kematian ibu dan bayi. Kegiatan tersebut berlangsung di Hotel Ariesta, Jumat (11/9/2026).
Menurut Bupati, setiap angka kematian ibu menyimpan persoalan kemanusiaan yang jauh lebih besar. Di balik satu kasus terdapat seorang perempuan, seorang istri, seorang ibu, sekaligus bagian penting dari keluarga dan lingkungan sosialnya yang kehilangan sosok tersebut.
Hal serupa, kata dia, juga berlaku pada kematian bayi. Kehilangan seorang bayi bukan hanya berakhirnya satu kehidupan, tetapi juga terputusnya harapan keluarga yang telah menantikan kehadiran dan masa depan anak tersebut.
Karena itu, Bupati TTU menegaskan bahwa setiap kasus kematian ibu maupun bayi harus dipandang sebagai pesan sekaligus alarm keras bagi pemerintah dan seluruh pihak terkait. Evaluasi tidak boleh berhenti pada pencatatan jumlah kasus, tetapi harus dilanjutkan dengan mencari penyebab dan memperbaiki sistem pelayanan kesehatan.
Bupati berharap rapat perencanaan dan penganggaran tersebut tidak hanya berorientasi pada pembahasan besaran anggaran kesehatan yang tersedia. Lebih dari itu, anggaran harus diarahkan untuk menghasilkan perubahan nyata, mulai dari peningkatan edukasi kesehatan reproduksi, perubahan perilaku masyarakat hingga penguatan pendampingan bagi ibu dan bayi.
Bupati Falent juga mendorong terbentuknya ekosistem pelayanan kesehatan yang terintegrasi dan berkesinambungan. Pelayanan tersebut harus terhubung mulai dari lingkungan keluarga, desa, fasilitas kesehatan tingkat pertama seperti puskesmas, hingga rumah sakit sebagai bagian dari satu sistem pelayanan yang saling memperkuat.
Menurut Bupati TTU, keberhasilan menekan angka kematian ibu dan bayi membutuhkan kerja bersama antara pemerintah, tenaga kesehatan, keluarga, masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan. Dengan perencanaan yang tepat, penganggaran yang berpihak pada kebutuhan masyarakat serta pelayanan yang mudah dijangkau, upaya menyelamatkan ibu dan bayi di TTU diharapkan tidak sekadar menjadi target program, tetapi menjadi gerakan kemanusiaan yang nyata. (*)
Editor: Oktovianus Arkyan Masan, S.Fil