LIDAHRAKYAT.COM - Pagi itu, Selasa, tanggal tiga bulan tiga tahun dua ribu dua puluh enam, Jakarta masih terbungkus kabut subuh. Jam baru menunjuk angka lima ketika langkah kaki menembus udara dingin, meninggalkan rumah yang masih berpeluk dengan sisa mimpi. Perahu pertama, mengantarkan tubuh yang setengah sadar menuju Stasiun Cawang. Dari sana, kereta menjadi sungai besi yang mengalir ke langit Bogor, menembus tirai hujan yang jatuh tanpa jeda.
Langit seperti sedang menangis panjang. Dari jendela kereta, butir-butir air menari di kaca, seolah menulis doa-doa rahasia yang hanya dimengerti oleh langit dan bumi. Setibanya di Stasiun Bogor, hujan tak juga reda. Langkah bergetar cepat, tak tertahan menunggu. Dengan jaket yang mulai basah, tubuh diteroboskan ke luar, kisah perdana menumpang angkot 02 menuju Sukasari. Dari sana, berpindah lagi ke angkot lain menuju Ciawi, lalu ke bus berpendingin udara yang menggigilkan tulang, rute Tasikmalaya. Dunia di luar jendela seperti lukisan kelabu—kabut, hujan, dan jalan yang berliku.
Tujuan perjalanan ini bukan sekadar perjalanan jasmani. Ada misi rohani bathiniah yang menuntun langkah: bisa ini penziarahan iman mengantarkan selembar kertas berisi niat-syukur-mohon. Di Biara Suster Claris Cipanas. Di tempat sunyi itu, para suster menenun hari-harinya dengan doa, menjadi lilin yang tak pernah padam bagi mereka yang memerlukan cahaya. Intensi pena sederhana itu berisi permohonan kecil;
Doa untuk kesehatan keluarga besar Uung, Keluarga Besar Ina Gole, untuk istri tercinta dan dua putri tersayang—Clarissa [KaCL] dan Claretta [AdCL] —Ucapan syukur atas umur panjang dan rezeki yang masih mengalir di tahun baru ini. Ada pula nama-nama yang telah berpulang, keluarga besar Uung dan Keraf, Ina Gole, yang dimohonkan agar damainya abadi di pangkuan Tuhan.
Biara, suasana begitu hening hingga desir hujan terdengar seperti kidung. Seorang suster menyambut dengan senyum yang lembut, menerima amplop itu seolah menerima sepotong hati yang dititipkan.
“Mohon didoakan dalam hari-hari doa para suster,” ucap bibir ini pelan.
Tak lama, lonceng Angelus berdentang, memanggil semua jiwa untuk berdoa siang. Langit masih kelabu, tapi di dalam kapel, cahaya lilin menari lembut di wajah para suster. Doa mengalir seperti sungai yang tenang, membawa segala resah dan harap menuju samudra kasih Ilahi.
Ketika doa usai, hujan pun berhenti. Langit membuka matanya, menampakkan biru yang malu-malu. Udara terasa teduh, seperti hati yang baru saja dimandikan embun. Ada sesuatu yang berubah—bukan di luar, tapi di dalam dada. Sebuah ketenangan yang tak bisa dijelaskan, hanya bisa dirasakan.
Perjalanan pulang terasa ringan. Bus melaju di jalan tol, menembus sore yang mulai merekah. Jakarta menyambut kembali tepat pukul tiga siang, dengan hiruk-pikuk yang sama, namun hati ini sudah berbeda. Di balik lelah perjalanan, tersimpan rasa damai yang lembut, seperti doa yang baru saja selesai diucapkan. Semoga dari ziarah kecil ini, tahun baru benar-benar menjadi awal yang diberkati—tempat segala karya tumbuh dalam terang dan keteduhan.
Dari kedalaman hati penuh hormat melalui tulisan singkat ini kami kirimkan atas nama kami sekeluarga [Martin-Offin;KaCL dan AdCL] menyampaikan; permohonan maaf dan terima kasih yang tak terhingga atas kasih dan pengorbanan keluarga besar yang berujung pada sebuah kehidupan yang penuh damai bersama nafas kehidupan ini. Keluarga Besar Uung-Atakowa, Keluarga Besar Ina Gole yang tersebar, Keluarga Besar Keraf-Bungan yang tersebar dan juga Para Leluhur, Uli Bela yang dengan penuh kasih selalu menyapa dan menjaga langkah kaki dari detik demi detik hidup. Akhirnya atas nama pribadi dan keluarga kepada ina-ama, om-tanta, aa-ari, oa-no, ine-ame, aji-kae, eja-weta, susah-senang hidup ini, kami sampaikan beribu terima kasih untuk semua kasih yang telah diberikan.
3.17K
141