LIDAHRAKYAT.COM– Video dugaan penganiayaan di Desa Fafinesu B, Kecamatan Fatuhao, Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur, viral di media sosial dan memicu perdebatan publik soal penghormatan martabat manusia serta penegakan hukum.[Kemenpora]Perdebatan bermula dari tulisan reflektif warganet bernama Wimmer berjudul “Mengapa Setega Itu Melukai Martabat Manusia” yang diunggah setelah video pengikatan, pemukulan, dan penendangan korban beredar luas.
“Apapun masalahnya, apapun salahnya orang, martabat manusia lebih tinggi dan negara kita mempunyai hukum,” tulis Wimmer, Kamis 4/6/2026.
Ia menilai kekerasan tidak dapat dibenarkan dalam kondisi apa pun dan proses hukum harus diserahkan kepada aparat berwenang. Pandangan itu kemudian ditanggapi Heribertus Haki Naibesi. Ia mengajak publik melihat kronologi lebih utuh. Menurutnya, warga Fafinesu B selama ini hidup dalam keresahan akibat kasus pencurian berulang, termasuk ternak dan barang bernilai adat.
“Masyarakat sebenarnya tidak sedang membenci orang baru. Mereka hanya sedang berusaha melindungi rumah adat dan warisan leluhur yang selama ini dijaga turun-temurun,” ujar Heribertus kepada media ini via WhatsApp, Kamis 4/6/2026.
Heribertus menegaskan penjelasan latar belakang tersebut bukan untuk membenarkan kekerasan.
“Saya kira kita perlu membedakan antara mencari pembenaran dan mencari pemahaman yang utuh. Menjelaskan kronologi bukan berarti membenarkan kekerasan,” jelasnya.
Menanggapi hal itu, Wimmer kembali menekankan keresahan masyarakat tidak dapat menjadi alasan melanggar hukum. Ia berpendapat fakta dugaan kekerasan tetap harus diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
Perdebatan dua warganet tersebut mendapat perhatian luas. Banyak komentar publik menilai keduanya memiliki titik temu: menolak kekerasan dan mendukung penyelesaian melalui mekanisme hukum. Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari Polres TTU terkait perkembangan penyelidikan kasus tersebut. Warga Fafinesu B disebut menantikan langkah aparat untuk mengusut peristiwa itu secara objektif.