Selasa, 17 Feb 2026
LidahRakyat | Aspirasi, Berani dan Aksi
Tak Banyak Tahu! Inilah Fakta Sejarah Masuknya Katolik dan Lahirnya Keuskupan Sumba
Jejak sejarah Agama Katolik di Pulau Sumba
Penulis: Ariyanto Kristian Tena
Sorot - 16 Feb 2026 - Views: 16
image empty
Lidah Rakyat/Wikipedia
Gereja Katedral Weetebula, Sumba Barat Daya

LIDAHRAKYAT.COM - Pulau Sumba di Provinsi Nusa Tenggara Timur menyimpan jejak sejarah penting tentang masuknya agama Katolik. Perjalanan panjang itu tidak langsung melahirkan keuskupan besar seperti sekarang, melainkan dimulai dari sebuah kampung sederhana bernama Pakamandara, di wilayah Loura, Kabupaten Sumba Barat Daya.

Catatan sejarah Gereja menyebutkan, pada 21 April 1889, para misionaris Serikat Yesus (Jesuit) pertama kali tiba di Sumba dan memulai karya pewartaan di Pakamandara. Tempat ini dikenal sebagai lokasi pertama masuknya Katolik di Pulau Sumba. Saat itu, masyarakat Sumba masih sangat kuat memegang kepercayaan Marapu. Para misionaris tidak datang dengan pendekatan konfrontatif, melainkan membangun relasi dengan tokoh adat dan masyarakat setempat. Pendidikan dan pelayanan sosial menjadi pintu masuk utama pewartaan Injil.

Dari Kampung Kecil, Iman Katolik Pertama Kali ditanam di Tanah Sumba.

Perjalanan awal tersebut tidak berjalan mulus. Kondisi geografis yang berat, keterbatasan tenaga misionaris, serta berbagai tantangan sosial membuat karya Jesuit harus dihentikan pada 1898. Selama lebih dari dua dekade, pelayanan Katolik di Sumba praktis mengalami kevakuman. Jejak yang telah ditinggalkan di Pakamandara tidak hilang begitu saja. Awal 1920-an menjadi babak baru ketika karya misi dilanjutkan oleh para imam dari Societas Verbi Divini (SVD) atau Serikat Sabda Allah. Para misionaris SVD melanjutkan dan memperluas pelayanan ke berbagai wilayah di Sumba. Perlahan, komunitas umat bertumbuh dan pelayanan pendidikan mulai berkembang.

Perkembangan Gereja Katolik di Sumba semakin terstruktur ketika pusat misi dipusatkan di Weetebula. Dari sana, pelayanan pastoral, pendidikan, dan kesehatan diperluas secara sistematis. Tonggak penting terjadi pada 20 Oktober 1959, ketika wilayah ini ditetapkan sebagai Prefektur Apostolik Weetebula. Sepuluh tahun kemudian, tepatnya 6 Februari 1969, statusnya ditingkatkan menjadi Keuskupan Weetebula. Pembentukan keuskupan tersebut menandai kedewasaan Gereja Katolik di Sumba buah dari perjalanan panjang yang akarnya bermula di Pakamandara.

Perkembangan Katolik di Sumba tidak terlepas dari proses inkulturasi. Gereja berupaya menghargai adat dan tradisi lokal, menjalin dialog dengan budaya Marapu, serta menghadirkan iman dalam konteks masyarakat Sumba.

Kini, Gereja Katolik di Sumba tidak hanya hadir sebagai lembaga keagamaan, tetapi juga sebagai pelopor pendidikan dan pelayanan sosial. Sekolah-sekolah, rumah sakit, dan karya kemanusiaan menjadi bagian dari warisan sejarah panjang tersebut. Dari sebuah kampung kecil bernama Pakamandara pada 1889, perjalanan iman itu terus bertumbuh. Apa yang dahulu hanyalah langkah sederhana para misionaris kini telah berkembang menjadi keuskupan yang menaungi ribuan umat di tanah Sumba. (Disadur dari berbagai media informasi)