Minggu, 15 Mar 2026
LidahRakyat | Aspirasi, Berani dan Aksi
SAKERA: Inovasi Pembelajaran dari Madura Untuk Indonesia
Kerja Benar dan Cerdas Untuk Perubahan
Penulis: Meja Redaksi Lidah Rakyat
Sorot - 18 Feb 2026 - Views: 468
image empty
Dok.lidahrakyat.com, foto. km
Foto: Penyerahan penghargaan Oleh Dinas Pendidikan Jawa Timur dan diterima langsung oleh Bapak Edi Purnomo Efendy, S. Pd. selaku Kepala Sekolah SMKN 2 Pamekasan Madura di Surabaya, dalam IGA Provinsi Jaawa Timur

LIDAHRAKYAT.COM - Di tengah riuh rendah perubahan zaman, lahirlah sebuah gagasan yang menyalakan lentera baru dalam dunia pendidikan: SAKERA. Bukan sekadar akronim, melainkan simbol semangat pembaruan yang berakar dari kearifan lokal Madura. Inovasi ini dirancang sejak tahun 2024 oleh Zainullah, S.Pd., M.Pd.I., seorang guru penggerak AI Indonesia yang baru saja meraih Best Applied AI Desaign dari Tianjin University. Dari ruang kelas sederhana di SMKN 2 Pamekasan, gagasan ini menjelma menjadi gerakan pembelajaran yang menggugah, menembus batas sekolah, dan kini bergema hingga ke berbagai instansi pemerintah.

Jejak Inovasi dari Tanah Garam, dari Lokal ke Nasional

SAKERA bukan hanya sekadar metode, melainkan filosofi belajar yang menempatkan peserta didik sebagai pusat semesta pengetahuan. Dalam dua tahun perjalanan uji coba, inovasi ini telah diterapkan di lima instansi pemerintah di luar SMKN 2 Pamekasan Madura Jawa Timur. Setiap penerapan menjadi bukti bahwa pendidikan yang berakar pada nilai-nilai lokal mampu menjawab tantangan global

Badan Riset Daerah Jawa Timur menilai SAKERA sebagai inovasi yang memenuhi standar ilmiah dan layak diajukan ke tingkat nasional. Penilaian ini bukan sekadar angka atau laporan, melainkan pengakuan atas kerja keras, dedikasi, dan keberanian untuk berpikir di luar kebiasaan.

Penghargaan yang Mengukuhkan

Puncak perjalanan SAKERA ditandai dengan penghargaan IGA (Innovative Government Award) dari Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Sebuah apresiasi yang menegaskan bahwa inovasi pendidikan bukan hanya milik kota besar, tetapi juga bisa lahir dari pelosok Madura yang sarat nilai dan budaya. Meski penyerahan penghargaan dilakukan oleh Dinas Pendidikan Jawa Timur dan diterima langsung oleh Bapak Edi Purnomo Efendy, S. Pd. selaku Kepala Sekolah SMKN 2 Pamekasan Madura di Surabaya, semangat di baliknya tetap sama: penghargaan ini adalah milik seluruh insan pendidikan yang percaya bahwa perubahan dimulai dari satu langkah kecil, dari satu ide yang berani.

SAKERA sebagai Gerakan Kultural

Lebih dari sekadar inovasi teknis, SAKERA adalah gerakan kultural. Ia mengajarkan bahwa pendidikan sejati bukan hanya tentang transfer ilmu, tetapi juga tentang menanamkan nilai, membangun karakter, dan menumbuhkan cinta terhadap tanah kelahiran. Dalam setiap penerapannya, SAKERA menjadi jembatan antara tradisi dan modernitas, antara lokalitas dan globalitas.

Dari Pamekasan, cahaya SAKERA menyala, menembus batas administratif dan geografis. Ia menjadi bukti bahwa dari tanah garam dan semangat pantang menyerah, lahir inovasi yang mampu menginspirasi negeri. SAKERA bukan sekadar program, melainkan manifesto pendidikan yang hidup—sebuah ajakan untuk terus belajar, berinovasi, dan berbakti bagi bangsa. (Dewi Farah)