Minggu, 15 Mar 2026
LidahRakyat | Aspirasi, Berani dan Aksi
Prapaskah: Hening yang Mengubah Hati
Refleksi Prapaskah
Penulis: Koka Masan
Analisis - 27 Feb 2026 - Views: 65
image empty
Istimewa
Foto Ilustrasi

LIDAHRAKYAT.COM —Masa Prapaskah sering datang setiap tahun, namun tidak selalu sungguh-sungguh kita hidupi. Ia bisa saja berlalu sebagai rutinitas liturgis, atau justru menjadi momen paling jujur dalam perjalanan iman kita. Prapaskah sesungguhnya adalah ruang hening—hening yang mengajak kita berhenti sejenak dari riuh dunia, lalu bertanya: masihkah arah hidup ini sejalan dengan kehendak Tuhan?

Di tengah budaya yang mengagungkan pencitraan dan keberhasilan instan, Prapaskah mengundang kita untuk menanggalkan topeng. Ia bukan musim kesedihan, tetapi musim kejujuran. Kejujuran untuk mengakui kerapuhan, untuk menyadari dosa, dan untuk dengan rendah hati berkata bahwa kita membutuhkan rahmat. Dalam keheningan itulah, hati perlahan dilunakkan.

Empat puluh hari mengingatkan kita pada perjalanan Yesus di padang gurun. Yesus Kristus berpuasa dan dicobai sebelum memulai karya keselamatan-Nya. Padang gurun itu bukan sekadar tempat sunyi, melainkan ruang pembentukan. Di sana, kenyamanan ditanggalkan, ketergantungan diuji, dan kesetiaan dimurnikan. Demikian pula hidup kita—sering kali justru dalam keterbatasan dan pergulatan, iman bertumbuh lebih dalam.

Prapaskah juga mengajak kita bercermin sebagai bagian dari masyarakat. Pertobatan tidak cukup berhenti pada doa pribadi. Ia harus menjelma dalam sikap hidup: lebih jujur dalam pekerjaan, lebih adil dalam keputusan, lebih peka terhadap penderitaan sesama. Tanpa itu, doa dan puasa mudah berubah menjadi formalitas rohani yang tidak menyentuh realitas. Puasa, doa, dan amal bukan sekadar kewajiban tahunan. Puasa melatih kita mengendalikan diri di tengah hasrat yang tak pernah puas. Doa menuntun kita menyadari bahwa kita terbatas dan membutuhkan Tuhan. Amal membuka mata bahwa hidup bukan hanya tentang diri sendiri. Ketiganya membentuk hati yang lebih lembut—hati yang digerakkan oleh kasih, bukan oleh ego.

Perjalanan ini berpuncak pada misteri salib. Salib mengajarkan bahwa cinta sejati tidak menghindari pengorbanan. Dalam iman Kristiani, kemuliaan tidak lahir dari kekuasaan, tetapi dari kerelaan memberi diri. Logika ini mungkin bertentangan dengan dunia, namun justru di situlah kekuatan Injil: kemenangan yang lahir dari kasih yang setia sampai akhir. Dan akhirnya, kita tiba pada Paskah—perayaan kebangkitan dan harapan. Paskah bukan sekadar seremoni, melainkan penegasan bahwa terang selalu lebih kuat daripada gelap. Kebangkitan adalah janji bahwa kegagalan, dosa, bahkan penderitaan, tidak pernah menjadi kata akhir dalam hidup orang beriman. Maka Prapaskah adalah perjalanan membongkar diri secara jujur agar kita sungguh layak merayakan Paskah dengan hati yang baru. Dunia tidak kekurangan simbol religius; dunia merindukan pribadi-pribadi yang sungguh berubah. Dari batin yang diperbarui, lahirlah tindakan yang memulihkan.

Akhirnya, Prapaskah adalah undangan lembut namun tegas: berani masuk ke dalam diri, berani bertobat, dan berani bangkit. Dalam keheningan itulah, kita menemukan bahwa kemuliaan Paskah bukan sekadar janji di akhir perjalanan, melainkan proses yang mulai tumbuh sejak hari ini—di hati yang mau dibentuk oleh Tuhan.