LIDAHRAKYAT.COM - Ada yang bilang, nasib adalah layar, dan kerja keras adalah angin yang meniupnya. Bila benar demikian, maka layar kehidupan itu tepat dipunggung inpirasi bernama Orias Petrus Moedak. Ia telah mengembang lebar, menembus samudra karier yang luas dan berombak tajam. Dari Kupang yang berdebu dan berangin, ia berlayar menuju pelabuhan-pelabuhan besar dunia, membawa nama Nusa Tenggara Timur berkibar di tiang tertinggi korporasi negeri.
Lahir pada 26 Agustus 1967, di tanah yang mataharinya garang namun hatinya hangat, Orias tumbuh sebagai anak timur yang tak gentar menatap masa depan. Dari bangku SDK Don Bosko 3 Kupang hingga menjejak di Universitas Padjadjaran Bandung, langkahnya seperti anak panah yang melesat lurus menuju sasaran: menjadi insan yang berguna dan berdaya. Kisah Orias bukan sekadar tentang ijazah dan gelar. Ia adalah kisah tentang peluh yang menetes di antara angka-angka akuntansi, tentang tekad yang ditempa di ruang rapat dan pelabuhan, tentang seorang putra daerah yang menolak tunduk pada batas geografi. Dari Kupang ke Garut, dari Bandung ke Oxford, dari Israel hingga Belgia—jejaknya seperti peta dunia yang digambar dengan tinta kerja keras.
Di dunia profesional, Orias meniti karier seperti pendaki yang sabar menaklukkan tebing curam. Dari auditor di Ernst & Young, ia melangkah ke kursi direktur di Bahana Securities, lalu menyeberang ke Singapura sebagai Managing Director di Daiwa Capital Markets. Setiap jabatan bukan sekadar posisi, melainkan batu pijakan menuju puncak yang lebih tinggi.
Ketika kembali ke tanah air, BUMN menjadi panggung tempat ia menari dengan strategi dan angka. Di Pelindo II dan III, ia mengatur arus pelabuhan seperti dirigen yang memimpin orkestra logistik nasional. Di Bukit Asam dan Inalum, ia mengelola bara dan logam, dua unsur bumi yang keras, dengan tangan dingin dan kepala dingin. Hingga akhirnya, ia dipercaya memegang kemudi besar: Direktur Utama PT Inalum (Persero), holding raksasa tambang Indonesia.
Orias bukan sekadar pejabat; ia menjadi simbol untuk anak timurpun bisa berdiri di tengah pusaran ekonomi nasional tanpa kehilangan akar. Ia membuktikan bahwa integritas bukan barang langka, dan bahwa kerja keras bisa menembus dinding-dinding birokrasi yang tebal.Kini, di usia matang, Orias masih menebar inspirasi. Dari ruang rapat Jakarta hingga kampung halaman di Kupang, namanya menjadi gema yang menegaskan satu hal: bahwa dari tanah kering pun bisa tumbuh pohon yang rindang, asal disiram dengan tekad dan kejujuran.
Orias Petrus Moedak adalah bukti hidup bahwa Indonesia Timur bukan sekadar peta di ujung negeri, melainkan sumber cahaya yang menerangi panggung besar republik. Kelak inspirasi ini akan mewarisi perjuangan orang-orang muda pada umumnya
3.17K
141