LIDAHRAKYAT.COM- Di lereng-lereng Desa Nunmafo, mengalir setetes berkat yang disebut warga dengan nama Oe Muis. Sumber air ini kini menjadi denyut nadi baru bagi masyarakat. Berkat sentuhan tangan penuh ketulusan dari Kepala Desa Agustinus Natun bersama jajarannya, Oe Muis telah diinstalasi untuk menopang lahan pertanian hortikultura.
Dari lahan yang dulu kering, kini tumbuh sayur-sayuran segar,buah tomat yang segar, hingga aneka hasil bumi yang menjadi penggerak ekonomi keluarga. Oe Muis menjelma menjadi pelita—membuka jalan baru agar masyarakat tidak lagi bergantung semata pada musim hujan.
Namun, di balik harapan yang tumbuh, masih ada keterbatasan. Sebagian kecil aliran Oe Muis memang dimanfaatkan untuk kebutuhan air minum masyarakat, tetapi belum maksimal. Ada rumah-rumah, ada dusun-dusun yang belum terjangkau tetesan berkat ini. Di sanalah hati Agustinus Natun diuji.
Dengan suara teduh, ia pernah berkata: “Kami berusaha sekuat tenaga memanfaatkan apa yang ada. Oe Muis sudah menjadi nafas baru bagi pertanian hortikultura, tetapi untuk kebutuhan air minum, jangkauannya masih terbatas. Kami berharap sentuhan dari pemerintah pusat maupun daerah, agar sumur bor bisa diadakan di titik-titik yang tak dijangkau air Oe Muis. Semua ini bukan untuk saya, tetapi untuk masyarakat Nunmafo.”
Kata-kata itu bukan keluhan, melainkan doa yang dilantunkan dengan ketulusan. Agustinus Natun, bersama jajarannya, menerima kritik dan tantangan dengan lapang dada. Kritik yang pedas justru dijadikannya motivasi untuk bekerja lebih baik.
Hari ini, Desa Nunmafo bangkit—meski dengan segala keterbatasan. Oe Muis telah membuka jalan bagi kemajuan ekonomi. Namun, masih ada tugas mulia menanti: menghadirkan keadilan air minum bagi setiap keluarga.
Semoga pemerintah, dengan segala kewenangan dan sumber daya, berkenan melihat kerja tulus ini. Agar setetes dari Oe Muis, atau sumur-sumur baru yang kelak digali, dapat mengalir menjadi samudra berkat bagi seluruh warga Nunmafo.
3.21K
141