Jumat, 27 Mar 2026
LidahRakyat | Aspirasi, Berani dan Aksi
Menjaga Iman dari Hal Sederhana: Gotong Royong Warga Umatoos Rawat Gereja Jelang Paskah 2026
Masyarakat turun langsung membersihkan Gereja
Penulis: Oktovianus Arkyan Masan, S.Fil
Peristiwa - 24 Mar 2026 - Views: 33
image empty
Penjabat Kepala Desa Umatoos, Herry Klau, bersama masyarakat turun langsung membersihkan Gereja Santo Yohanes Baptista Besikama. Selasa (24/3/2026).

LIDAHRAKYAT.COM---BESIKAMA,--- Di tengah ritme kehidupan desa yang sederhana, warga Umatoos menunjukkan bahwa iman tidak hanya dirayakan di altar, tetapi juga dirawat melalui tindakan nyata. Selasa (24/3/2026), Penjabat Kepala Desa Umatoos, Herry Klau, bersama masyarakat turun langsung membersihkan Gereja Santo Yohanes Baptista Besikama, Dekenat Malaka, Keuskupan Atambua.

Kegiatan ini bukan sekadar kerja bakti biasa. Ia menjadi bagian dari Aksi Puasa Pembangunan, sebuah refleksi iman yang diwujudkan dalam kerja kolektif menjelang Perayaan Paskah 2026.

Sejak pagi, halaman gereja tua itu dipenuhi aktivitas warga. Sapu, parang, dan alat kebersihan lainnya bergerak seirama, membersihkan setiap sudut bangunan yang menjadi pusat kehidupan rohani umat setempat.

Antusiasme masyarakat menunjukkan bahwa gereja bukan hanya bangunan fisik, melainkan ruang hidup yang menyatukan iman, tradisi, dan solidaritas sosial. Gotong royong menjadi bahasa bersama yang mempertegas identitas komunitas.

Herry Klau menegaskan, kehadiran pemerintah desa dalam kegiatan tersebut merupakan bentuk tanggung jawab moral dalam mendukung kehidupan beriman masyarakat. Baginya, pembangunan tidak selalu soal infrastruktur, tetapi juga menyentuh dimensi spiritual.

Ia menilai, merawat gereja berarti merawat nilai-nilai yang hidup di dalamnya, tentang kebersamaan, kepedulian, dan tanggung jawab sosial. Hal ini menjadi fondasi penting dalam membangun masyarakat yang utuh.

Sementara itu, Pastor Paroki Santo Yohanes Baptista Besikama, Romo Okto Neno, Pr atau yang akrab disapa Romo One, mengingatkan bahwa kerja bersama seperti ini adalah cerminan gereja yang hidup. Gereja, menurutnya, tidak hanya berdiri dari tembok, tetapi dari iman umatnya.

Momentum ini pun menjadi pengingat bahwa menyambut Paskah tidak cukup dengan persiapan seremonial. Lebih dari itu, dibutuhkan keterlibatan nyata untuk memperkuat iman, dimulai dari hal-hal sederhana, seperti menjaga dan merawat rumah ibadah bersama.