LIDAHRAKYAT.COM - Jakarta kembali menelan kisah pilu dari ufuk timur Nusantara. Seorang gadis muda, Maria Rosalia Knaelolon, 24 tahun, Putri dari Tanah Nusa Tadon, Waiwerang, Adonara Timur, Flores Timur, berpulang dengan cara yang mengguncang nurani. Di kamar kos sempit di ibu kota, tempat ia menambatkan harapan dan menenun mimpi untuk keluarga di kampung halaman, maut datang tanpa mengetuk.
Maria, yang datang ke Jakarta dengan niat suci membantu ekonomi keluarga, kini pulang dalam diam. Tubuhnya terbujur kaku di Rumah Sakit Kramat Jati, Jakarta Timur, menunggu perjalanan terakhir menuju tanah kelahirannya. Di balik kabar duka itu, terselip kisah getir tentang perjuangan anak rantau yang menukar masa muda dengan kerja keras, namun akhirnya kalah oleh sunyi yang tak terucap.
Langit Adonara seakan berawan kelabu mendengar kabar ini. Di rumah sederhana di Waiwerang, tangis orangtua pecah seperti ombak yang menghantam karang watawoko. Mereka menatap kosong ke arah barat, ke arah Jakarta yang jauh, tempat anak gadis mereka terakhir kali menatap dunia. Belum ada yang tahu pasti apa yang menuntun langkah Maria ke ujung jalan hidupnya. Keluarga di Jakarta hanya bisa menerima kabar ini sebagai musibah, sebuah takdir yang tak bisa ditawar. Di balik kabar itu, ada gema pertanyaan yang menggantung di udara: seberapa berat beban yang dipikul seorang anak rantau hingga memilih jalan sunyi seperti itu?
Rabu pagi, 18 Maret 2026, jenazah Maria telah diterbangkan dari Bandara Soekarno-Hatta menuju kampung halaman. Keluarga besar Adonara di Jakarta dan diaspora NTT bahu-membahu mengurus kepulangannya. Mereka memastikan Maria kembali ke pangkuan tanah leluhur, tempat di mana doa dan air mata akan menyambutnya.
“Dia kerja sebagai ART,” tutur seorang kerabat dengan suara bergetar. Kalimat sederhana itu menyimpan sejuta makna—tentang perjuangan, pengorbanan, dan kesunyian yang sering tak terlihat di balik senyum para perantau.
Kini, Maria telah tenang. Semoga arwahnya diterima di sisi Bapa di surga, dan kisahnya menjadi cermin bagi banyak hati yang tengah berjuang di kerasnya kota. Sebab di balik gemerlap Jakarta, selalu ada kisah sunyi yang menunggu untuk didengar.
3.17K
141