LIDAHRAKYAT.COM - Di sudut kecil Ciledug, ada seorang seniman muda bernama Agista yang punya jurus sakti: menggambar secepat kilat, seindah senja. Bayangkan, hanya dalam waktu lima menit, selembar kertas putih bisa berubah jadi rumah mungil di lereng gunung, pantai berombak lembut, atau pepohonan yang menari di bawah matahari jingga. Lima menit lebih cepat dari waktu menanak nasi - dan jadilah karya yang bisa menukar imajinasi dengan sebungkus beras.
Agista bukan lulusan akademi seni, bukan pula murid maestro lukis mana pun. Ia belajar dari rasa ingin tahu dan ketekunan yang tumbuh sejak kecil. Pensil dan kertas menjadi sahabat setia, sementara warna-warna lahir dari hatinya sendiri. Tak ada teori perspektif atau komposisi rumit, yang ada hanya ketulusan dan semangat untuk bertahan hidup dengan cara yang indah.
Harga karyanya pun tak membuat dompet menjerit: Rp.5.000 untuk ukuran A4, Rp.10.000 untuk A3. Murah? Mungkin. Tapi di balik angka itu, tersimpan nilai yang tak ternilai, ketulusan seorang anak yang menjual hasil imajinasinya demi membantu keluarga. Setiap goresan adalah doa, setiap warna adalah harapan.
Agista mengajarkan bahwa seni tak selalu lahir dari studio megah atau kanvas mahal. Kadang, ia tumbuh di ruang sempit, di antara tumpukan kertas dan aroma nasi yang baru matang. Lima menit baginya bukan sekadar waktu, tapi kesempatan untuk mengubah imajinasi menjadi rezeki, dan menggambar menjadi cara paling lembut untuk mencintai kehidupan.
3.15K
141