Jumat, 27 Mar 2026
LidahRakyat | Aspirasi, Berani dan Aksi
Laut Menangis di Lewoleba, Saat Ombak Menyimpan Luka Nelayan
Inspirasi Hidup
Penulis: Meja Redaksi Lidah Rakyat
Sorot - 21 Mar 2026 - Views: 49
image empty
Dok.lidahrakyat.com

LIDAHRAKYAT.COM - Laut di Lewoleba, yang biasanya berkilau biru di bawah matahari Lembata, kini seolah berwarna muram. Ombaknya tak lagi bernyanyi, tapi berbisik lirih membawa kabar duka: seorang nelayan, anak laut yang setiap hari menantang badai demi sesuap nasi, ditabrak kapal pengangkut minyak. Sebuah tragedi yang menampar nurani, namun sayangnya, sunyi lebih nyaring daripada keadilan.

Nelayan itu bukan siapa-siapa di mata kekuasaan—hanya rakyat kecil yang menggantungkan hidup pada jaring dan perahu kayu. Tapi di mata laut, ia adalah penjaga kehidupan, penafsir ombak, dan pewaris birunya samudra. Kini tubuhnya terkapar, bukan karena badai, tapi karena keserakahan dan kelalaian kapal baja yang melintas tanpa hati.

Kapal itu bukan hantu. Ia punya nama, punya bendera, punya pemilik, punya tujuan. Tapi anehnya, sampai hari ini, identitasnya seolah disembunyikan di balik kabut birokrasi. Seakan-akan laut bisa menelan bukti, seakan-akan ombak bisa menghapus jejak dosa. Padahal, kapal tidak berjalan sendiri. Di balik kemudinya ada tangan manusia, di balik pelayarannya ada perusahaan yang diuntungkan, dan di balik diamnya aparat ada tanda tanya besar: ke mana nurani itu pergi?

Keadilan bagi nelayan Lewoleba bukan sekadar soal ganti rugi. Ini tentang harga nyawa yang tak boleh ditukar dengan selembar kertas kompensasi. Ini tentang keberanian negara untuk berdiri di sisi rakyat kecil, bukan bersembunyi di balik tembok kekuasaan.

KSOP, Syahbandar, Polairud, dan pemerintah daerah—semua mata kini tertuju pada kalian. Jangan biarkan hukum menjadi jaring robek yang hanya menjerat ikan kecil, sementara kapal besar melenggang bebas di atasnya. Jangan biarkan laut menjadi saksi bisu ketidakadilan yang terus berulang.

Laut adalah ibu bagi nelayan. Ia memberi makan, memberi hidup, memberi harapan. Tapi kini, laut juga menjadi saksi bagaimana anaknya ditabrak dan ditinggalkan tanpa kepastian. Ombak mungkin bisa menenangkan luka, tapi tidak bisa menenggelamkan tuntutan: usut tuntas, ungkap nama kapal, dan tegakkan keadilan!

Jika hari ini nelayan dibiarkan tanpa pembelaan, maka besok laut akan kembali menelan korban. Dan ketika itu terjadi, jangan salahkan ombak bila ia mengamuk, sebab laut pun tahu kapan harus marah.

Keadilan untuk Nelayan Lewoleba! Karena laut bukan kuburan bagi rakyat kecil, melainkan halaman hidup yang harus dijaga dengan nurani dan tanggung jawab.