LIDAHRAKYAT.COM - Di bawah langit Jakarta yang sibuk, langkah seorang putra Timor Tengah Utara menjejak lantai marmer Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional. Wakil Bupati TTU, Kamillus Elu, SH, datang bukan sekadar membawa map berisi dokumen, melainkan membawa segepok harapan rakyat dari tanah perbatasan—harapan yang ingin terbang setinggi awan dan menjejak bumi dengan sanitasi yang layak.
Tanggal 4 Maret 2026 menjadi saksi ketika ruang rapat lantai dua Kementerian ATR/BPN berubah menjadi panggung diplomasi pembangunan. Di sana, bersama Wakil Ketua I DPRD TTU dan Plt. Kepala Dinas PUPR, Kamillus Elu menabuh genderang perjuangan: membicarakan dua proyek strategis yang menjadi denyut masa depan TTU—pembangunan Bandar Udara di Kelurahan Sasi dan Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT) di Desa Naiola, Kecamatan Bikomi Selatan.
Bandara Sasi bukan sekadar landasan pacu bagi pesawat, melainkan landasan mimpi bagi masyarakat yang ingin terhubung dengan dunia luar. Sementara IPLT Naiola adalah simbol kepedulian terhadap bumi dan manusia—sebuah upaya menata kebersihan agar kehidupan tak hanya berputar di langit mimpi, tapi juga berpijak di tanah yang sehat.
Audiensi itu dihadiri oleh para penjaga tata ruang negeri: Direktur Jenderal Tata Ruang, Dr. Ir. Suyus Windayana, M.App.Sc., dan Direktur Bina Perencanaan Tata Ruang Wilayah II, Chriesty Elisabeth Lengkong, S.T., M.Sc. Kehadiran mereka ibarat cahaya lampu di ujung lorong panjang perjuangan daerah, menandakan bahwa suara dari perbatasan tak lagi bergema sendiri.
Dalam pertemuan itu, Kamillus Elu berbicara dengan nada yang memadukan diplomasi dan doa. Ia berharap agar hasil audiensi ini tak berhenti di meja rapat, melainkan menjelma menjadi tindakan nyata—dukungan konkret dari pemerintah pusat untuk menembus sekat birokrasi dan mempercepat pembangunan.
“Sinergi adalah jembatan emas,” begitu kira-kira pesan yang mengalir dari hatinya. Sebab tanpa sinergi, pembangunan hanyalah menara pasir di tepi pantai; indah dipandang, tapi mudah runtuh diterpa ombak.
Dari ruang rapat di Jakarta hingga pelosok TTU, gema perjuangan itu kini bergaung. Bandara Sasi dan IPLT Naiola bukan sekadar proyek, melainkan simbol kebangkitan daerah. Sebuah kisah tentang bagaimana mimpi dari tanah kering di ujung timur Nusantara berani mengetuk pintu kementerian di ibu kota—karena setiap langkah kecil menuju pembangunan adalah doa panjang yang ingin menjelma menjadi kenyataan.
3.17K
141