Oleh : Oktovianus Arkyan Masan, S. Fil
LIDAHRAKYAT.COM — OPINI,— Kefamenanu sedang berduka. Timor Tengah Utara sedang berduka. Bahkan lebih jauh dari itu, banyak hati di Nusa Tenggara Timur ikut merasakan kehilangan yang mendalam. Kepergian dr. Eliza Princila Utami Pakaenoni, atau yang akrab dikenal sebagai dr. Icha, bukan sekadar kabar duka tentang wafatnya seorang tenaga medis. Kepergiannya telah mengguncang kesadaran publik dan memunculkan pertanyaan yang jauh lebih besar: apakah kita masih menempatkan kemanusiaan di atas kekuasaan? Di tengah berbagai informasi yang berkembang, masyarakat dibuat terhenyak oleh dugaan bahwa almarhumah mengalami tekanan psikologis yang berat sebelum meninggal dunia. Jika dugaan itu benar, maka tragedi ini tidak bisa dipandang hanya sebagai persoalan pribadi. Ini adalah persoalan kemanusiaan yang menyangkut cara kita memperlakukan sesama manusia, terutama mereka yang berada di garis depan pelayanan publik.
Dr. Icha adalah seorang dokter muda yang memilih jalan pengabdian. Di tengah keterbatasan tenaga kesehatan yang masih dialami berbagai daerah di Nusa Tenggara Timur, ia hadir sebagai bagian dari harapan. Ia menjalankan profesinya bukan di ruang yang nyaman dan bebas tekanan, melainkan di lingkungan kerja yang menuntut ketahanan fisik, mental, dan emosional setiap hari.
Menjadi dokter di daerah bukanlah pekerjaan yang mudah. Mereka berhadapan dengan keterbatasan fasilitas, tingginya ekspektasi masyarakat, serta berbagai tantangan administratif yang sering kali tidak terlihat oleh publik. Dalam kondisi seperti itu, dukungan moral dan penghargaan terhadap profesi mereka menjadi kebutuhan yang sangat penting. Oleh karena itu, ketika muncul dugaan adanya intimidasi atau tekanan terhadap seorang tenaga medis yang sedang menjalankan tugasnya, masyarakat tentu berhak mempertanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Pertanyaan itu bukan lahir dari kebencian, melainkan dari keinginan agar kebenaran dapat ditemukan dan keadilan dapat ditegakkan. Lebih dari itu, tragedi ini mengingatkan kita bahwa kekuasaan selalu memiliki dua wajah. Di satu sisi, kekuasaan dapat menjadi alat untuk melayani dan melindungi masyarakat. Namun di sisi lain, ketika tidak dikendalikan oleh hati nurani, kekuasaan dapat berubah menjadi sumber ketakutan yang melukai orang lain tanpa disadari.
Wakil rakyat pada hakikatnya dipilih untuk menjadi penyambung suara masyarakat. Mereka diberi mandat untuk membela kepentingan publik, bukan untuk menciptakan tekanan yang membuat masyarakat merasa kecil dan tidak berdaya. Jabatan publik adalah amanah yang menuntut kerendahan hati, bukan superioritas. Setiap kata yang diucapkan oleh seseorang yang memiliki pengaruh memiliki bobot yang berbeda. Sebuah kalimat yang mungkin dianggap biasa oleh pemberi tekanan dapat berubah menjadi beban yang sangat berat bagi penerimanya. Tidak semua luka terlihat oleh mata. Ada luka yang tumbuh diam-diam di dalam batin seseorang hingga akhirnya menghancurkan harapan dan semangat hidupnya. Peristiwa ini semakin menyentuh hati adalah kenyataan bahwa dr. Icha sedang menjalankan tugas kemanusiaan. Ia bukan seorang pelaku kejahatan. Ia bukan seseorang yang sedang mencari keuntungan pribadi. Ia adalah seorang dokter yang mengabdikan ilmu dan waktunya untuk membantu masyarakat yang membutuhkan pertolongan.
Pernyataan organisasi profesi yang menyebut tidak ditemukan pelanggaran standar operasional prosedur maupun etika profesi oleh dr. Icha tentu menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan. Hal tersebut semakin menguatkan harapan publik agar seluruh proses pengusutan dilakukan secara objektif, transparan, dan bebas dari kepentingan apa pun.
Di balik seluruh perdebatan yang muncul, ada satu kenyataan yang tidak boleh dilupakan. Ada seorang ayah yang kehilangan anak. Ada seorang ibu yang kehilangan buah hati. Ada keluarga yang kini harus belajar menerima kenyataan pahit bahwa orang yang mereka cintai tidak akan lagi pulang dan menyapa mereka seperti biasanya. Duka itu tidak hanya milik keluarga. Banyak rekan tenaga kesehatan, sahabat, dan masyarakat yang pernah mengenal dr. Icha ikut merasakan kehilangan yang sama. Mereka mengenang sosok yang ramah, rendah hati, dan penuh dedikasi. Sosok yang memilih melayani ketika banyak orang memilih pergi.
Kepergian dr. Icha seharusnya menjadi momentum refleksi bersama. Pemerintah daerah, lembaga kesehatan, organisasi profesi, penegak hukum, dan seluruh elemen masyarakat perlu memastikan bahwa lingkungan kerja yang sehat secara mental menjadi perhatian serius. Tidak boleh ada seorang pun yang merasa sendirian ketika menghadapi tekanan yang berat. Kita juga perlu belajar bahwa penghormatan terhadap martabat manusia tidak boleh berhenti pada slogan. Kemanusiaan harus hadir dalam cara kita berbicara, mengambil keputusan, menggunakan kewenangan, dan memperlakukan orang lain. Sebab ukuran kemajuan sebuah daerah bukan hanya dilihat dari pembangunan fisik, tetapi juga dari kemampuannya menjaga nilai-nilai kemanusiaan.
Jika benar ada intimidasi yang menyebabkan penderitaan psikologis, maka keadilan harus ditegakkan tanpa pandang bulu. Bukan untuk membalas dendam, melainkan untuk memastikan bahwa tidak ada lagi tragedi serupa yang terulang di masa depan. Sebab ketika seorang dokter pergi sambil meninggalkan begitu banyak pertanyaan, yang sesungguhnya sedang diuji bukan hanya sistem hukum kita, melainkan juga nurani kita sebagai manusia.
Selamat jalan, dr. Icha. Pengabdianmu telah meninggalkan jejak yang tidak akan mudah dilupakan. Namamu akan tetap hidup dalam ingatan banyak orang, bukan hanya sebagai seorang dokter, tetapi sebagai pengingat bahwa kemanusiaan harus selalu lebih tinggi dari pada kekuasaan. Dan selama masih ada orang yang memperjuangkan kebenaran, air matamu tidak akan jatuh sia-sia. (*)