Selasa, 11 Aug 2026
LidahRakyat | Aspirasi, Berani dan Aksi
Bukan Sekedar Janji! Bupati TTU Sambut 149 Mahasiswa PKL, Program 800 Anak TTU Mulai Buktikan Hasil
Dari Kampus ke Masyarakat, Program Pendidikan Mulai Teruji.
Penulis: Oktovianus Arkyan Masan, S.Fil
Peristiwa - 11 Aug 2026 - Views: 413
image empty
dok.lidahrakyat.com/Koka Masan
Keterangan Foto: Bupati Timor Tengah Utara, Yoseph Falentinus Delasalle Kebo bersama 149 mahasiswa STIKes Nusantara Kupang saat penerimaan PKL di Kantor Dinas Kesehatan TTU, Senin, (10/8/2026). (Dokumentasi : Koka Masan//Lidah Rakyat)

LIDAHRAKYAT.COM — KEFAMENANU,— Program pendidikan lebih dari 800 mahasiswa asal Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) di STIKes Nusantara Kupang mulai memasuki fase yang lebih konkret. Sebanyak 149 mahasiswa kini turun langsung ke masyarakat untuk menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) di sejumlah puskesmas di Kabupaten TTU.

Para mahasiswa tersebut diterima Bupati TTU Yosep Falentinus Delasalle Kebo atau Falent Kebo di halaman Kantor Dinas Kesehatan TTU, Senin (10/8/2026). Kehadiran mereka bukan sekadar menandai dimulainya agenda akademik, tetapi juga menjadi gambaran bahwa program pendidikan yang selama ini menjadi perhatian publik mulai bergerak ke tahap praktik.

Dari 149 mahasiswa itu, terdapat mahasiswa D3 Kebidanan, S1 Keperawatan, dan S1 Gizi. Mereka akan berada di lapangan selama dua bulan dan ditempatkan pada 24 dari total 26 puskesmas yang tersebar di wilayah Kabupaten TTU.

Di tempat praktik, mahasiswa tidak lagi berhadapan semata dengan buku, teori, maupun simulasi laboratorium. Mereka akan berhadapan langsung dengan masyarakat, tenaga kesehatan, keluarga pasien, kader, serta berbagai persoalan kesehatan yang terjadi di tingkat paling dekat dengan warga.

Bagi Falent, justru pada ruang itulah pendidikan memperoleh makna yang lebih luas. Ilmu yang diperoleh mahasiswa selama berada di bangku kuliah harus mampu diterjemahkan menjadi keterampilan, kepedulian, dan kepekaan ketika berhadapan dengan kehidupan masyarakat yang sesungguhnya.

“Di ruang kelas, Anda belajar tentang teori. Di laboratorium, saudara belajar tentang keterampilan. Tetapi di tengah masyarakat, saudara belajar tentang kemanusiaan,” kata Falent.

Pesan tersebut menjadi penekanan bagi para mahasiswa agar tidak melihat PKL hanya sebagai kewajiban untuk menyelesaikan tahapan akademik. Dua bulan berada di tengah masyarakat harus digunakan untuk belajar memahami persoalan kesehatan dari sudut pandang warga.

Mahasiswa juga diminta membangun komunikasi yang baik dengan kader, tokoh masyarakat, keluarga, tenaga kesehatan, serta berbagai unsur yang terlibat dalam pelayanan kesehatan. Menurut Falent, kemampuan mendengar dan memahami masyarakat sama pentingnya dengan kemampuan akademik yang dimiliki mahasiswa.

Kepada para kepala puskesmas, Falent meminta agar mahasiswa diberikan ruang untuk belajar secara aktif. Mereka diharapkan dapat bertanya, berdiskusi, melakukan pengamatan, sekaligus terlibat dalam kegiatan pelayanan sesuai kompetensi dan ketentuan yang berlaku.

Kehadiran mahasiswa di 24 puskesmas juga diharapkan tidak berhenti pada kepentingan pendidikan. Interaksi yang terbangun selama PKL diharapkan memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus menjadi pengalaman berharga bagi mahasiswa sebelum mereka benar-benar memasuki dunia kerja.

Program tersebut merupakan bagian dari kolaborasi pendidikan yang saat ini diikuti lebih dari 800 mahasiswa asal TTU di STIKes Nusantara Kupang. Para mahasiswa berasal dari berbagai bidang pendidikan kesehatan yang diproyeksikan dapat memperkuat ketersediaan sumber daya manusia di bidang kesehatan.

Bagi Pemerintah Kabupaten TTU, pendidikan menjadi salah satu investasi yang menentukan arah pembangunan daerah dalam jangka panjang. Sebab, pembangunan tidak hanya diukur dari berapa banyak gedung yang berdiri atau jalan yang dibangun, tetapi juga dari seberapa kuat kualitas manusia yang akan mengelola masa depan daerah.

Falent sebelumnya menjelaskan bahwa pembiayaan pendidikan mahasiswa asal TTU di STIKes Nusantara Kupang dilakukan melalui skema kolaborasi yang bersumber dari dana corporate social responsibility (CSR) dan dukungan dana pribadi.

“Dari CSR, dan saya pribadi kita membiayai mereka,” ujar Falent pada 21 Oktober 2025 lalu.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa program pendidikan itu sejak awal ditempatkan sebagai bagian dari investasi sumber daya manusia. Harapannya, mahasiswa yang memperoleh kesempatan pendidikan tidak berhenti pada pencapaian gelar, tetapi kelak mampu kembali memberi kontribusi bagi masyarakat dan daerah asalnya.

Namun, perjalanan program tersebut tidak sepenuhnya berlangsung tanpa perdebatan. Sebelumnya, muncul komentar dan keraguan dari sejumlah pihak yang mempertanyakan realisasi program pendidikan bagi ratusan mahasiswa asal TTU tersebut.

Keraguan itu kini memasuki babak baru ketika 149 mahasiswa benar-benar turun ke lapangan untuk menjalani PKL. Kehadiran mereka di 24 puskesmas menjadi salah satu bukti bahwa program tersebut telah bergerak dari ruang perencanaan dan pembelajaran menuju tahap praktik.

Meski demikian, pelaksanaan PKL tetap menjadi proses yang harus dibuktikan melalui hasil. Ukuran keberhasilan bukan hanya pada jumlah mahasiswa yang ditempatkan, tetapi juga pada pengalaman yang mereka peroleh, kedisiplinan selama menjalankan praktik, serta manfaat yang dirasakan masyarakat.

Karena itu, Falent meminta para mahasiswa menjalankan PKL dengan sungguh-sungguh. Ia berharap kesempatan tersebut tidak disia-siakan karena pengalaman berhadapan langsung dengan masyarakat akan menjadi bekal penting ketika mahasiswa kelak memasuki dunia profesional.

“Selamat belajar. Selamat mengabdi. Dan selamat menjalankan Praktik Kerja Lapangan,” pungkas Bupati Falent.

Dengan dimulainya PKL 149 mahasiswa tersebut, program pendidikan yang melibatkan lebih dari 800 mahasiswa asal TTU kini memasuki tahap yang lebih nyata. Dari ruang kuliah menuju puskesmas, dari teori menuju pengalaman, program itu kini diuji bukan hanya oleh proses akademik, tetapi juga oleh kenyataan di tengah masyarakat. (*)

 

Editor: Oktovianus Arkyan Masan, S.Fil