Dunia filsafat baru saja kehilangan salah satu tokoh besar abad ke-20: Jürgen Habermas. Ia hidup hampir satu abad, menyaksikan Eropa bangkit dari puing perang, menyaksikan demokrasi liberal menguat, dan menyaksikan dunia digital lahir. Dalam perjalanan panjang itu ia menjadi salah satu pemikir paling berpengaruh tentang rasionalitas, demokrasi, dan komunikasi publik. Namun bagi banyak orang yang dibesarkan dalam tradisi metafisika klasik—Aristoteles, Aquinas, atau realisme filosofis—perjumpaan pertama dengan Habermas sering meninggalkan kesan aneh: ada sesuatu yang terasa sangat cerdas, tetapi juga terasa kurang. Seperti bangunan yang dirancang dengan presisi tinggi, tetapi berdiri di atas tanah yang terlalu tipis.
Tulisan ini bukan elegi sentimental, melainkan upaya memahami apa yang sebenarnya dilakukan Habermas dalam filsafat, dan mengapa sebagian orang merasa tidak sepenuhnya “pulang” ketika membacanya.
Filsafat Setelah Trauma Sejarah
Untuk memahami Habermas, kita harus kembali ke Eropa setelah Perang Dunia II. Generasi filsuf Jerman setelah perang hidup dengan trauma besar: bagaimana sebuah bangsa yang memiliki tradisi filsafat agung—dari Kant sampai Hegel—bisa jatuh ke dalam barbarisme Nazi? Di sinilah lahir tradisi yang disebut Frankfurt School. Para pemikirnya ingin mengkritik masyarakat modern, kapitalisme, ideologi, dan bentuk-bentuk dominasi yang tersembunyi dalam budaya modern.
Habermas adalah generasi kedua dari tradisi ini. Ia ingin melakukan sesuatu yang ambisius: menyelamatkan rasionalitas modern tanpa kembali ke metafisika klasik yang menurut banyak intelektual saat itu dianggap sudah runtuh. Dengan kata lain, proyeknya adalah mencari dasar rasional bagi masyarakat demokratis tanpa bergantung pada agama atau metafisika.
Rasionalitas yang Lahir dari Percakapan. Di sinilah lahir gagasan paling terkenal Habermas: rasionalitas komunikatif. Menurutnya, manusia menjadi rasional bukan terutama karena berpikir sendirian, tetapi karena berdialog dengan orang lain. Dalam percakapan yang bebas dari dominasi, orang saling memberi alasan, saling menguji argumen, dan akhirnya mendekati konsensus yang rasional. Habermas membayangkan sesuatu yang ia sebut situasi tutur ideal: suatu kondisi di mana semua peserta dialog bebas berbicara, tidak ada paksaan, dan argumen terbaiklah yang menang. Di dalam ruang seperti itu, kebenaran sosial dan norma moral dapat muncul melalui proses diskursus.
Gagasan ini sangat memengaruhi teori demokrasi modern. Ia menjadi salah satu fondasi filsafat politik deliberatif—gagasan bahwa masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang berdiskusi secara rasional.
Tetapi Di Mana Realitas?
Di sinilah sebagian pembaca mulai merasa ada yang kurang.
Dalam metafisika klasik—misalnya dalam tradisi Thomas Aquinas—kebenaran tidak lahir dari percakapan. Kebenaran berakar pada realitas. Aquinas merumuskan definisi sederhana tetapi tajam: kebenaran adalah kesesuaian akal dengan realitas. Realitas ada terlebih dahulu. Akal manusia menyesuaikan diri kepadanya. Habermas melakukan sesuatu yang berbeda. Ia memindahkan pusat gravitasi filsafat dari realitas ke komunikasi. Kebenaran, dalam kerangkanya, muncul dari proses diskursus rasional di antara manusia. Perbedaan ini tampak kecil, tetapi sebenarnya sangat mendasar.
Bagi realisme metafisik, dialog tidak menciptakan kebenaran. Dialog hanya membantu manusia menemukan kebenaran yang sudah ada dalam realitas. Gunung tetap gunung, bahkan jika seluruh manusia sepakat menyebutnya awan.
Filsafat yang Sangat Modern
Habermas sebenarnya adalah filsuf yang sangat modern—dalam arti ia menerima kondisi dunia modern yang plural dan sekuler. Ia sadar bahwa dalam masyarakat modern tidak semua orang berbagi keyakinan metafisik yang sama. Karena itu ia mencari dasar rasional yang dapat diterima oleh semua orang: komunikasi publik yang bebas dan rasional. Secara politik, ini ide yang kuat. Ia membantu menjelaskan mengapa demokrasi membutuhkan ruang diskusi publik yang sehat. Namun secara filosofis, pendekatan ini meninggalkan pertanyaan besar: apakah rasionalitas manusia benar-benar dapat berdiri tanpa fondasi metafisik?
Habermas sendiri pada masa tuanya tampak semakin sadar akan persoalan ini. Ia mulai berbicara tentang pentingnya sumber moral dari tradisi religius dalam masyarakat modern. Ia bahkan membuka dialog serius dengan teologi. Seolah-olah seorang arsitek rasionalitas sekuler akhirnya menyadari bahwa rumah yang ia bangun masih membutuhkan fondasi yang lebih dalam.
Warisan Habermas
Habermas tidak memberi kita metafisika baru. Ia memberi sesuatu yang lain: teori tentang bagaimana manusia dapat hidup bersama secara rasional di dunia yang plural. Ia mengingatkan bahwa kebenaran tidak hanya dicari di ruang sunyi filsafat, tetapi juga di ruang publik—di tempat orang saling berbicara, berdebat, dan mencoba memahami satu sama lain. Namun bagi mereka yang masih percaya bahwa filsafat harus berbicara tentang realitas itu sendiri, Habermas sering terasa seperti filsuf yang berjalan di permukaan bumi tanpa benar-benar menggali tanah di bawahnya. Ia membangun ruang dialog yang elegan. Tetapi ia sengaja tidak menggali fondasi ontologisnya. Dan di situlah letak paradoksnya.
Habermas membantu kita memahami bagaimana manusia berbicara tentang kebenaran. Tetapi pertanyaan paling tua filsafat tetap berdiri diam di belakangnya: apa sebenarnya kebenaran itu sendiri? Pertanyaan itu tidak pernah benar-benar hilang dari sejarah filsafat.
Ia hanya menunggu generasi berikutnya untuk menggali tanah yang lebih dalam lagi
*Penulis adalah Imam Katolik, Dosen Filsafat Unika Kupang
3.17K
141