Selasa, 21 Apr 2026
LidahRakyat | Aspirasi, Berani dan Aksi
Kartini Ngajarin Kita Melawan Penindasan
Surat Untuk Anak Muda
Penulis: Mila Muzakkar*
Style - 21 Apr 2026 - Views: 6
image empty
Ilustrasi lidahrakyat.com/AI

"Saya memang masih muda, tetapi tidak tuli atau buta. Saya telah mendengar banyak—bahkan mungkin terlalu banyak—yang membuat hati saya menggelisah kesakitan, yang menyapu saya dalam pemberontakan yang membara, melawan tradisi yang mengakar kuat dan menjadi kutukan bagi perempuan dan anak.”
(Surat untuk Mevrouw Abendanon-Mandri, Agustus 1900)

"Apa yang benar, adalah benar. Dan yang adil tetap adil. Bisa kamu lihat, bukan? Dalam pendidikan dan peradaban, kami ingin setara dengan Eropa. Hak yang kita tuntut untuk diri sendiri, harus kita berikan juga kepada orang lain.”
(Surat untuk Stella Zeehandelaar, 13 Januari 1900)

Wadidau… Keren banget Kartini ini.
Di abad ke-19, saat usianya masih sangat muda, dia sudah melek, gelisah, dan berani mengkritik—pemerintah, adat, bahkan agama.

Padahal, ruang geraknya sangat terbatas.
Dia nggak bebas keluar, nongkrong, atau diskusi di forum-forum.
Nggak ada teman diskusi.
Nggak ada handphone. Nggak ada media sosial untuk posting pemikirannya.

Tapi perempuan muda itu punya pikiran dan hati yang ia fungsikan dengan benar.
Nalarnya terusik oleh kondisi di sekitarnya.


Ia bertanya banyak hal:
Kenapa laki-laki disekolahkan, tapi perempuan nggak?

Kenapa orang-orang pribumi harus menyembah, bahkan berjalan menunduk kepada orang Eropa yang hanya pendatang, dan sering mengejek mereka?

Kenapa disuruh membaca Al-Qur’an, tapi nggak boleh memahami artinya?

Hatinya peka terhadap penindasan dan ketidakadilan. Kartini menolak diperlakukan seperti “ratu” oleh perempuan-perempuan yang lebih tua darinya.
Ia juga menolak ketika pajak diberlakukan kepada orang-orang miskin.

Karena sudah muak, ia ingin membangun sekolah.
Mendidik orang-orang Jawa—terutama perempuan—yang sengaja dibikin bodoh. Supaya mereka sadar:
mereka sedang dijajah. Supaya mereka nggak apatis.
Tapi bangkit. Melawan.


Meanwhile…
Apa yang terjadi sekarang di negara kita?

Pembodohan oleh pelayan negara masih terjadi di mana-mana.
Misalnya, katanya presiden melakukan efisiensi. Anggaran yang nggak penting dipotong.

Meanwhile…

Presiden bikin 48 kementerian—sebelumnya hanya 34—lengkap dengan wakil dan staf-stafnya.
Nggak jelas semua fungsinya apa. Dan jumlah yang besar itu pun nggak menyelesaikan masalah di masyarakat.
Malah menambah.
Sialnya, mereka semua digaji besar dari uang rakyat.

Katanya efisiensi.
Tapi ketika orang dekat presiden ulang tahun, justru ada pesta, bahkan sampai di Paris.
Belum lagi gaya hidup para menteri dan pejabatnya. Nggak ada yang naik mobil Avanza, apalagi transportasi umum kan?

Jadi… di mana efisiensinya?
Atau jangan-jangan, definisi “efisiensi” sekarang13 berubah, sesuai siapa yang berkuasa?

Rakyat juga dibohongi.
Saat kampanye, dijanjikan bahwa dana MBG akan mengalir ke warteg, ke ibu-ibu di daerah, supaya mereka sejahtera.

Meanwhile...
MBG justru melemahkan kantin sekolah, petani kecil, guru, bahkan siswa.
Kenapa? Karena program ini dikelola oleh anggota DPR/DPRD, polisi, tentara pengusaha besar, dan orang-orang dekat kekuasaan.
Dengan kata lain, MBG adalah proyek bisnis besar yang mengantungkan orang-orang kaya.

Apalagi? Masih banyak. Capek nulisnya.

Kalau Kartini saja bisa cerdas, cemas merasakan ketidakadilan, dan berani melawan, masa kita nggak?

Kalau Kartini nggak melawan waktu itu, mungkin sekarang kita masih hidup di sistem penjajahan. Mungkin juga sekarang semua perempuan masi di dapur, sumur, kasur. Mungkin juga kita masih diinjak-injak oleh penguasa.

Kalau kita nggak melawan pembodohan, penindasan, dan ketidakadilan pelayan negara sekarang...
Mungkin besok kita akan makin miskin, makin nggak bisa berkembang,
makin anxiety, depresi,
dan mati pelan-pelan.


21 April 2026