LIDAHRAKYAT.COM, — Kupang,---- Duka mendalam menyelimuti keluarga besar dan masyarakat atas berpulangnya Gerardus Tabati, sosok guru, kepala keluarga, dan penjaga budaya yang dikenal penuh dedikasi dan kasih. Ia menghembuskan napas terakhir pada Rabu, 17 Maret 2026 pukul 13.18 WITA, setelah menjalani masa sakit yang cukup panjang. Kepergiannya meninggalkan jejak kehidupan yang sarat pengabdian dan keteladanan.
Lahir di kampung sederhana Haubesi pada 2 Mei 1943 dari pasangan Yakobus Tae dan Wilhelmina Bano, Gerardus Tabati merupakan anak kedua dari 12 bersaudara. Sejak kecil, ia ditempa dalam kehidupan yang penuh kesederhanaan, namun kaya akan nilai kerja keras, persaudaraan, dan kasih. Nilai-nilai inilah yang kemudian membentuk dirinya menjadi pribadi yang kuat dan penuh tanggung jawab dalam menjalani hidup.
Dalam kehidupan keluarga, almarhum dikenal sebagai sosok ayah dan kakek yang penuh cinta. Bersama istri pertamanya, almarhumah Emersiana Rika, ia membangun keluarga kecil yang hangat dan dikaruniai seorang anak laki-laki serta cucu-cucu yang ia kasihi. Ia juga dikenal terbuka dengan menerima anak-anak angkat sebagai bagian dari keluarganya. Pada tahun 1994, ia kembali membina rumah tangga bersama almarhumah Patrisia Ulan dan dikaruniai empat orang anak serta cucu-cucu yang menjadi kebanggaannya.
Dedikasi terbesar Gerardus Tabati terlihat dalam pengabdiannya sebagai seorang pendidik. Ia mengabdikan diri mengajar di SDK Lurasik, SD Berseon, hingga SDK Yaperna Jak. Hingga masa pensiunnya pada tahun 2005, ia dikenang sebagai guru yang sabar, tegas, dan mengajar dengan hati. Bagi banyak murid, ia bukan sekadar pengajar, tetapi juga pembimbing hidup yang menanamkan nilai-nilai moral dan kedisiplinan.
Tak hanya di dunia pendidikan, almarhum juga dikenal sebagai penjaga dan penggerak budaya lokal. Dengan kecintaan mendalam terhadap warisan leluhur, ia menciptakan tarian Likurai khas Biboki serta tarian gong dari bambu. Karya-karya tersebut menjadi simbol semangat perjuangan dan identitas budaya masyarakat, khususnya di wilayah Miomaffo Timur, yang hingga kini masih dikenang dan diwariskan.
Memasuki usia senja, kondisi kesehatannya mulai menurun. Sejak tahun 2019, ia berjuang melawan stroke ringan dan tekanan darah tinggi. Tahun 2021, ia pindah ke Kupang untuk menjalani perawatan bersama sang istri yang juga tengah sakit. Kehilangan mendalam ia rasakan saat sang istri berpulang pada 2022. Sejak saat itu, kesehatannya kian menurun, hingga pada akhir 2025 ia mengalami cedera akibat terjatuh yang menyebabkan gangguan pada tulang belakang. Memasuki awal tahun 2026, kondisinya semakin melemah hingga lebih banyak terbaring. Sempat menjalani perawatan di rumah sakit akibat kesulitan makan dan minum, ia akhirnya kembali dirawat pada 17 Maret 2026 karena sesak napas, sebelum akhirnya berpulang untuk selama-lamanya.
Kepergian Gerardus Tabati bukan hanya kehilangan bagi keluarga, tetapi juga bagi masyarakat yang pernah merasakan sentuhan pengabdiannya. Ia dikenang sebagai pribadi sederhana yang menghidupi nilai kasih, pendidikan, dan budaya. Warisan hidupnya akan terus hidup dalam ingatan keluarga, murid-murid, dan masyarakat luas yang pernah mengenalnya.
3.27K
141