Di tengah gegap gempita transformasi pendidikan digital, para guru muda melangkah cepat dengan perangkat teknologi di tangan: laptop, proyektor, Canva, ChatGPT, Google Classroom, hingga video pembelajaran. Mereka penuh semangat, seolah membelah masa depan. Namun di sisi lain, di ruang guru yang sama, ada mereka—guru-guru tua, yang telah mengabdi puluhan tahun, kini duduk diam, tampak kikuk di hadapan teknologi yang asing.
Mereka sering kali dianggap lambat, ketinggalan zaman, bahkan secara tak langsung dipinggirkan dalam program-program pelatihan yang high-tech. Ada yang berkata, "Sudah saatnya mereka pensiun, mereka menghambat inovasi." Namun benarkah demikian?
Filsuf Yunani, Plato, pernah mengatakan bahwa pendidikan bukan hanya mengisi wadah kosong, melainkan menyalakan api dalam jiwa. Dan nyala api itu, selama bertahun-tahun, telah dinyalakan oleh para guru tua kita—dengan penuh cinta, kesabaran, dan pengorbanan. Tidak adil rasanya jika kini, hanya karena perkembangan teknologi, mereka dianggap usang dan tak relevan.
Kita hidup di zaman perubahan, ya. Tapi perubahan tanpa rasa kemanusiaan akan menjelma menjadi kekejaman yang baru. Martin Heidegger, filsuf Jerman, memperingatkan bahwa teknologi bisa mendehumanisasi manusia bila tidak diarahkan oleh kesadaran etis. Maka, kita perlu bertanya: apakah kemajuan pendidikan yang kita kejar telah membuat kita kehilangan rasa hormat kepada mereka yang telah lebih dulu berdiri di garis depan pendidikan bangsa ini?
Sebagai guru muda, saya mengajak rekan-rekan seangkatan dan generasi setelah saya untuk tidak memandang rendah guru-guru tua, melainkan melihat mereka sebagai kekuatan moral dan sumber kebijaksanaan. Mereka mungkin tidak secepat kita mengoperasikan teknologi, tapi mereka kaya akan intuisi pedagogis, pengalaman mendampingi siswa dari masa ke masa, dan memiliki narasi kehidupan yang bisa menjadi landasan reflektif dalam menyusun arah baru pendidikan.
Confucius, filsuf besar dari Tiongkok, berkata, “Tua itu bukan hanya tentang umur, tapi tentang kedalaman kebijaksanaan yang dimiliki.” Maka, guru tua bukan hambatan. Mereka adalah jembatan antara masa lalu yang membentuk kita dan masa depan yang ingin kita bangun.
Kekuatan Kolaborasi Antargenerasi
Di sinilah harapan saya tumbuh: agar sekolah-sekolah, dinas pendidikan, dan komunitas belajar membangun ruang kolaborasi yang setara antara guru tua dan guru muda. Yang muda membawa keterampilan digital dan semangat eksplorasi, yang tua membawa kedewasaan, nilai, dan kedalaman refleksi.
Jangan jadikan digitalisasi pendidikan sebagai ajang “seleksi alam” yang menyingkirkan mereka yang kesulitan mengikuti. Sebaliknya, jadikan momentum ini sebagai ruang saling belajar. Guru muda mendampingi guru tua mengoperasikan perangkat dan media pembelajaran digital, guru tua membimbing guru muda untuk tetap membumi dalam mengajar: mendengarkan siswa, membangun karakter, dan menanamkan nilai.
Pendidikan adalah Ruang yang Berakar
Teknologi akan terus berubah, dan guru-guru muda akan terus lahir. Tapi bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai perjuangan para pendidiknya di masa lalu. Kita tidak boleh membiarkan guru-guru tua kita menyepi dalam sunyi. Mereka bukan beban. Mereka adalah akar yang membuat pohon pendidikan ini terus kokoh berdiri.
Mari kita jadikan kolaborasi lintas generasi sebagai kekuatan utama pendidikan. Karena hanya bangsa yang merawat akarnya, yang akan sanggup menjulang lebih tinggi ke langit inovasi.
*Remigius Ua, S.Pd, Gr, adalah Guru SMP Negeri Wini, Pegiat Pendidikan di Wilayah Perbatasan NKRI -RDTL.
Ia percaya bahwa kemajuan pendidikan harus tetap berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan dan kebijaksanaan lintas generasi.
7 days ago
2.88K
141