Jumat, 27 Mar 2026
LidahRakyat | Aspirasi, Berani dan Aksi
Haji Her dan Dapur Kebaikan dari Tanah Merah
Inspirasi Literasi Indonesia
Penulis: Redaksi LidahRakyat
Sorot - 08 Mar 2026 - Views: 58
image empty
Ilustrasi lidahrakyat.com/AI

LIDAHRAKYAT.COM - Tanah Merah di Bangkalan bukan sekadar hamparan bumi yang diselimuti aroma tembakau dan garam. Ia kini menjadi panggung kecil tempat kebaikan menari, diiringi langkah seorang pengusaha yang menolak menjadi sekadar kaya: Haji Her. Sosok yang dijuluki “Crazy Rich Madura” ini seolah menulis ulang makna kemewahan dengan tinta keikhlasan dan pena kepedulian.

Dalam dunia yang sering menukar nilai dengan angka, Haji Her hadir seperti oase di tengah padang keserakahan. Ia menjadikan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) bukan sekadar tempat memasak, melainkan tungku pengabdian. Dari sana, asap yang mengepul bukan hanya aroma lauk bergizi, tapi juga wangi niat baik yang menembus batas-batas sosial.

Kita hidup di zaman di mana banyak orang berlomba menimbun, bukan menebar. Namun di SPPG Tanah Merah, ada seorang yang justru menyalakan bara kebaikan dari hasil jerih payahnya. Ia tidak menimbun emas di peti, melainkan menanamnya di hati masyarakat. Ia tidak membangun istana untuk dirinya, melainkan rumah bagi mereka yang dindingnya nyaris roboh.

Sikapnya mengingatkan kita bahwa kekayaan sejati bukanlah tentang berapa banyak yang dimiliki, melainkan seberapa ringan tangan memberi. Dalam setiap langkahnya, Haji Her seolah menegaskan bahwa uang hanyalah alat, bukan tujuan. Ia menolak menjadikan program sosial sebagai ladang keuntungan, karena baginya, keberkahan tak bisa dibeli dengan laba. Lebih dari sekadar dermawan, pengusaha tembakau asal Pamekasan, Haji Her adalah cermin yang memantulkan wajah kemanusiaan Madura: keras di luar, lembut di dalam. Ia menegakkan disiplin di tengah kemurahan hati, menanamkan nilai kejujuran di antara aroma nasi dan sayur yang dimasak untuk anak-anak sekolah. Ia tahu, kebaikan tanpa ketegasan hanya akan layu sebelum berkembang. Dan ketika dunia maya riuh oleh aksinya membagikan uang kepada ribuan siswa, sesungguhnya yang ia bagikan bukan sekadar lembaran rupiah, melainkan semangat. Ia menyalakan api kecil di dada anak-anak agar mereka percaya bahwa belajar adalah jalan menuju martabat.

Dari dapur sederhana di Tanah Merah, Haji Her mengajarkan bahwa kedermawanan bukan tentang seberapa besar yang diberikan, tapi seberapa tulus niat di baliknya. Ia menulis kisah bahwa kekayaan sejati bukan diukur dari tebalnya dompet, melainkan dari seberapa dalam seseorang mau berbagi.

Madura patut berbangga, sebab di antara debu jalan dan panas matahari, masih ada sosok yang menyalakan lentera kemanusiaan. Dan dari dapur itu - dapur kebaikan - aroma kasih terus mengepul, menghangatkan hati siapa pun yang percaya bahwa memberi adalah cara paling indah untuk hidup.