Kehilangan Seorang Ibu, Kehilangan Sebuah Mata Air
Tanggal 14 Maret menandai satu tahun kepergian Mama Justina Luruk. Ia meninggalkan anak, cucu, dan keluarga yang mencintainya. Namun dalam pandangan budaya Timor—khususnya di wilayah Malaka—kematian tidak semata-mata dipahami sebagai akhir biologis. Kematian adalah perjalanan pulang menuju ruang kosmis para leluhur.
Dalam pandangan tradisional masyarakat Timor, seseorang yang telah meninggal tidak benar-benar hilang. Ia dipercaya menyatu dengan semesta: menjadi angin yang berhembus di ladang, menjadi embun yang jatuh di daun jagung, atau menjadi bintang yang memandu langkah anak cucunya, karena itu, mengenang Mama Justina Luruk tidak hanya berarti mengenang seorang ibu atau seorang guru. Ia juga berarti mengingat kembali energi kehidupan yang kini dipercaya telah menyatu dengan kosmos para leluhur.
Guru dalam Kosmologi Timor
Dalam banyak tradisi Timor, pengetahuan tidak sekadar dipahami sebagai ilmu rasional. Pengetahuan dipandang sebagai warisan kosmis yang diturunkan dari leluhur kepada generasi berikutnya. Dalam konteks ini, seorang guru bukan sekadar pengajar di ruang kelas. Ia adalah penjaga api pengetahuan.
Di masyarakat tradisional Timor, terutama dalam wilayah budaya Tetun seperti Malaka, peran orang tua—terutama ibu—dipandang sebagai sumber kehidupan sekaligus sumber pengetahuan. Hal ini berkaitan dengan sistem kekerabatan matrilineal yang masih kuat dalam sejumlah komunitas, di mana garis keturunan mengikuti pihak ibu dan perempuan menjadi pusat keberlanjutan keluarga.
Dalam sistem ini, perempuan bukan sekadar anggota keluarga. Ia adalah penjaga asal-usul, penjaga rumah adat, sekaligus penjaga kesinambungan generasi, karena itu, ketika seorang perempuan juga menjadi guru, ia memegang dua peran sekaligus: sebagai ibu kehidupan dan ibu pengetahuan. Mama Justina Luruk menjalani kedua panggilan itu dalam hidupnya.
Malaka dan Dunia Matrilineal
Wilayah Malaka di Pulau Timor memiliki kekhasan budaya yang menarik. Berbeda dengan banyak masyarakat lain di Indonesia yang bersifat patriarkal, sebagian masyarakat Malaka mempraktikkan sistem kekerabatan matrilineal, di mana garis keturunan mengikuti ibu dan laki-laki yang menikah kerap mengikuti keluarga istrinya.
Sistem ini tidak hanya bersifat sosial, tetapi juga kosmologis. Dalam kosmologi masyarakat Tetun di wilayah Belu Selatan–Malaka, keseimbangan dunia sering dipahami melalui simbol dualitas: perempuan sebagai pusat kesuburan dan kehidupan, sementara laki-laki berperan sebagai pelaksana tindakan sosial.
Dalam struktur kerajaan tradisional seperti di wilayah Wehali, penguasa tertinggi bahkan memiliki posisi simbolik yang dianggap “perempuan secara ritual”. Posisi ini bersifat sakral dan lebih spiritual daripada politis. Hal ini menunjukkan bahwa dalam kosmologi Timor, unsur feminin sering dipandang sebagai pusat spiritual dunia. Dalam kerangka ini, seorang ibu tidak hanya melahirkan manusia, tetapi juga melahirkan dunia sosial dan spiritual bagi keturunannya.
Ibu sebagai Poros Semesta Keluarga
Dalam budaya Timor dikenal pemahaman bahwa keluarga merupakan mikrokosmos dari semesta. Rumah bukan sekadar tempat tinggal. Rumah adalah alam kecil tempat nilai-nilai kehidupan pertama kali ditanamkan. Di dalam rumah, ayah sering dipandang sebagai penjaga arah luar, sementara ibu menjadi jantung kehidupan keluarga. Dari seorang ibu, anak pertama kali belajar berbicara, mengenal kasih, dan memahami nilai hidup. Ketika seorang ibu juga seorang guru, ia menjadi mata air ganda: mengalirkan pengetahuan kepada masyarakat sekaligus kepada keluarganya.
Mama Justina Luruk adalah salah satu dari mata air itu. Melalui pengajaran, ia menanam benih ilmu. Melalui kasih, ia menanam benih kemanusiaan. Seperti benih yang jatuh di tanah Timor—keras namun subur oleh kesabaran—ilmu yang ditanam seorang guru sering kali baru tampak buahnya bertahun-tahun kemudian.
Kematian dalam Pandangan Kosmis Timor
Dalam banyak tradisi Timor, kematian tidak dipandang sebagai kehancuran, melainkan sebagai perjalanan kembali kepada leluhur. Orang yang meninggal diyakini tetap hadir sebagai bagian dari dunia tak terlihat. Ia dipercaya menjadi penjaga rumah adat, pelindung keluarga, sekaligus penuntun generasi baru.
Tradisi lisan di wilayah Belu Selatan juga menempatkan leluhur sebagai bagian penting dari sejarah dan identitas komunitas. Kisah-kisah tentang asal-usul nenek moyang diwariskan dari generasi ke generasi untuk menjaga hubungan antara manusia yang hidup dan mereka yang telah pergi. Dalam pandangan ini, leluhur tidak mati. Mereka berubah menjadi kekuatan yang menjaga kehidupan. Karena itu, satu tahun setelah Mama Justina Luruk berpulang, kenangan tentang dirinya tidak hanya menjadi kenangan manusiawi, tetapi juga ingatan spiritual.
Dari Tanah ke Langit
Dalam kosmologi Timor, perjalanan hidup manusia sering dianalogikan seperti siklus alam: lahir dari tanah, hidup di bawah langit, dan kembali menjadi bagian dari semesta. Seperti jagung yang tumbuh di ladang Malaka: bijinya ditanam di tanah, tumbuh menuju matahari, lalu kembali menjadi benih bagi generasi berikutnya. Demikian pula kehidupan seorang guru.
Ilmu yang ia tanam tidak pernah benar-benar mati. Ia hidup dalam pikiran murid-muridnya. Kasih yang ia berikan tidak pernah hilang; ia hidup dalam hati anak-anaknya. Dan kenangan tentangnya akan terus hidup dalam cerita keluarga.
Cahaya yang Tidak Pernah Padam
Setahun telah berlalu sejak Mama Justina Luruk meninggalkan dunia ini. Namun dalam cara pandang kosmis masyarakat Timor, waktu bukanlah garis yang memutus hubungan antara yang hidup dan yang mati. Waktu adalah lingkaran yang terus menghubungkan generasi. Mama Justina Luruk mungkin telah pergi dari dunia yang terlihat, tetapi ia tetap hadir dalam ingatan, dalam doa, dalam cerita keluarga, dan dalam nilai-nilai yang ia tanamkan.
Seorang guru sejati tidak hanya mengajar selama hidupnya. Ia mengajar bahkan setelah ia tiada. Di bawah langit Timor yang luas, para leluhur seakan menerima satu cahaya baru: cahaya seorang ibu, seorang guru, Mama Justina Luruk.
3.17K
141