LIDAHRAKYAT.COM - Sore itu, langit Pejaten Raya Jakarta Selatan berwarna jingga pucat, seperti wajah kota yang baru saja menelan seharian hiruk-pikuk. Di antara aroma nasi uduk yang menggoda dan dengung kendaraan yang tak pernah lelah, sebuah tangisan kecil menembus udara — lirih, tapi cukup untuk mengguncang hati siapa pun yang mendengarnya.
Tangisan itu berasal dari sebuah gerobak nasi uduk, saksi bisu yang biasanya hanya menyimpan sisa sambal dan nasi hangat, kini menjadi buaian darurat bagi kehidupan mungil yang baru dua hari menatap dunia. Di dalamnya, seorang bayi perempuan terbaring miring, dibalut selimut lembut, mengenakan pakaian boneka beruang biru — seolah semesta bersekongkol untuk memberinya sedikit kehangatan di tengah dinginnya nasib.
Dinda, warga yang pertama kali menemukan, semula hanya ingin membeli makan malam. Namun langkahnya terhenti oleh suara tangis yang tak biasa. Ia menyingkap tas belanja hitam di dalam gerobak itu, dan di sanalah ia menemukan kehidupan baru — bersama selembar kertas yang meneteskan air mata tanpa tinta.
“Assalamualaikum, Bapak/Ibu yang menemukan adik saya...”
Begitu awal tulisan tangan di kertas itu. Huruf-hurufnya goyah, seperti ditulis oleh tangan kecil yang gemetar antara takut dan harap. Penulisnya, seorang bocah bernama Zidan, baru berusia dua belas tahun. Ia menulis dengan hati yang lebih tua dari umurnya, meminta dunia untuk menjaga adik yang baru lahir, karena ibunya telah pergi bersama nafas terakhir di ruang kelahiran.
Zidan menulis bukan dengan pena, tapi dengan air mata. Ia menitipkan adiknya pada dunia, pada siapa pun yang masih punya sisa kasih di dada. Ia tak ingin adiknya bernasib sama seperti dirinya— terlunta di jalan kehidupan yang terlalu besar untuk anak sekecil itu.
Kapolsek Pasar Minggu, Kompol Anggiat Sinambela, menyebut bayi itu ditemukan sekitar pukul setengah enam sore. Tapi waktu hanyalah angka; yang lebih penting adalah detik ketika manusia kembali diingatkan bahwa kasih sayang bisa lahir dari kehilangan, dan harapan bisa tumbuh bahkan di atas gerobak nasi uduk yang sederhana.
Kini, bayi itu mungkin sedang tertidur di pelukan hangat seseorang yang tak pernah dikenalnya, sementara Zidan entah di mana — mungkin menatap langit yang sama, berharap adiknya tumbuh dalam dunia yang lebih lembut dari nasibnya sendiri. Dan gerobak nasi uduk di Pejaten Raya Jakarta Selatan, malam itu menjadi saksi: bahwa di tengah kerasnya kota, masih ada ruang kecil bagi keajaiban, bagi cinta yang lahir dari luka, dan bagi tangisan yang justru menyalakan cahaya
3.27K
141