Sabtu, 30 May 2026
LidahRakyat | Aspirasi, Berani dan Aksi
Di Perbatasan RI RDTL Perawat Ini Rawat Pemimpin Rohani yang Sakit dengan Ketulusan Hati
Perawat Pemimpin Rohani/Imam dengan Ketulasan.
Penulis: Oktovianus Arkyan Masan, S.Fil
Peristiwa - 23 Mar 2026 - Views: 176
image empty
Helena Tmaneak
Helena Tmaneak (31), perawat yang bertugas di Wisma Purna Bakti Emaus Nela, Atambua, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur. Minggu (22/3/2026).

LIDAHRAKYAT.COM---Atambua,--- Profesi perawat kerap disebut sebagai “malaikat tak bersayap” karena menyatukan yang tidak hanya berkutat pada tindakan medis, tetapi juga menyentuh sisi kemanusiaan pasien. Hal itu tercermin dari dedikasi Helena Tmaneak (31), perawat yang bertugas di Wisma Purna Bakti Emaus Nela, Atambua, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur.

Perempuan yang akrab disapa Helen ini menilai pekerjaannya sebagai bentuk panggilan kemanusiaan. Selama bertugas, ia merawat para imam dan pemimpin rohani yang sedang sakit dengan pendekatan yang tidak hanya fokus pada penyembuhan fisik, tetapi juga penguatan mental dan spiritual.

“Merawat imam atau pemimpin rohani yang sakit adalah pelayanan kasih yang mulia,” kata Helen, Minggu (22/3/2026).

Ibu satu anak asal Manufui, Kabupaten Timor Tengah Utara, menjelaskan bahwa peran perawat tidak terbatas pada pemberian obat atau tindakan medis. Menurut dia, empati, sentuhan, dan komunikasi yang menenangkan menjadi bagian penting dalam membantu proses pemulihan pasien.

Dengan pengalaman sekitar empat tahun, Helen mengaku tidak pernah menganggap pekerjaan sebagai beban. Ia justru merasakan kepuasan batin setiap kali dapat hadir dan mendampingi pasien dalam masa-masa sulit.

Lulusan STIKES Nusantara Kupang ini juga mengibaratkan pasien yang dirawatnya seperti orang tua sendiri. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya kesabaran dan ketelatenan, terutama dalam pelayanan berbasis home care yang menuntut kedekatan emosional.

Dalam kesehariannya, Helen bersama sejumlah perawat dan suster memberikan layanan intensif, mulai dari pemeriksaan rutin, pemberian obat, hingga terapi bagi pasien stroke. Di wilayah perbatasan yang berbatasan langsung dengan Timor Leste, dedikasi tenaga kesehatan seperti dirinya menjadi bagian penting dalam memastikan pelayanan kemanusiaan tetap berjalan.