LIDAHRAKYAT.COM -Di tengah derasnya opini, unggahan liar, dan tudingan di ruang digital, Kepala Desa Oenbit, Kecamatan Insana, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), akhirnya angkat bicara dengan nada tegas namun tenang. Ia menegaskan bahwa ambruknya bronjong penahan jembatan Ekamtalan di Dusun 6 Neun adalah akibat langsung banjir ekstrem, bukan buah dari kelalaian perencanaan maupun kualitas pekerjaan yang dibiayai Dana Desa.
Pernyataan tersebut disampaikan pada 26 Januari 2026, menyusul ramainya narasi di media sosial dan sejumlah pemberitaan yang mempertanyakan proyek bronjong senilai Rp.75 juta dari Dana Desa Tahun Anggaran 2025. Kepala Desa menilai, polemik yang berkembang kerap melupakan satu fakta mendasar: alam sedang tidak baik-baik saja.
Menurutnya Herman Efryanto Tanouf, pembangunan bronjong sejak awal bukan proyek seremonial, melainkan langkah mitigasi nyata menghadapi ancaman longsor di kawasan kali dan jembatan Ekamtalan, wilayah yang telah lama dikenal rawan abrasi dan runtuhan tanah. Program tersebut bahkan sejalan dengan kebijakan nasional, di mana mitigasi bencana dan adaptasi perubahan iklim masuk dalam tujuh prioritas utama penggunaan Dana Desa. Senin, (26/1/2026).
Alam memang berbicara dengan caranya sendiri. Pada Kamis, 11 Desember 2025, hujan berintensitas sangat tinggi mengguyur Desa Oenbit sejak pagi hingga larut malam. Kondisi ini diperparah oleh peringatan dini BMKG Kupang dan BPBD terkait potensi Bibit Siklon Tropis 93S. Debit air sungai melonjak drastis, melampaui daya tahan struktur mitigasi yang ada, hingga akhirnya bronjong penahan jembatan tak mampu bertahan dan terbawa arus.
“Ini bukan kejadian tunggal. Di banyak wilayah TTU, deker, jembatan kecil, dan infrastruktur lainnya juga rusak pada periode yang sama. Ini adalah bencana hidrometeorologi, bukan kesalahan manusia,” tegas Kepala Desa.
Ia juga menepis keraguan terhadap kualitas pekerjaan. Seluruh tahapan pembangunan, katanya, telah dilakukan sesuai standar. Kawat bronjong ber-SNI digunakan, pengerjaan menyesuaikan kemampuan keuangan desa, dan bahkan dilengkapi langkah tambahan berupa normalisasi alur kali Ekamtalan. Ke depan, pemerintah desa juga merancang penanaman pohon dan bambu sebagai upaya mitigasi jangka panjang yang lebih ramah lingkungan.
“Bencana alam tidak pernah masuk dalam rencana manusia. Kami bekerja dengan itikad baik, sesuai kewenangan dan kapasitas desa. Yang terjadi adalah ujian alam yang melampaui perhitungan teknis,” ujarnya.
Untuk penanganan selanjutnya, Pemerintah Desa Oenbit berkomitmen mengupayakan rehabilitasi pascabencana yang akan disesuaikan dengan kemampuan keuangan desa pada Tahun Anggaran 2026, sembari terus berkoordinasi dengan pihak terkait.
Menutup pernyataannya, Kepala Desa mengajak masyarakat untuk lebih waspada, lebih bijak, dan lebih solider menghadapi ancaman cuaca ekstrem. Ia menekankan pentingnya merujuk pada informasi resmi BMKG dan BPBD, serta menghindari kesimpulan prematur yang berpotensi melukai kepercayaan sosial.
“Kritik yang membangun adalah vitamin bagi demokrasi desa. Kami menerimanya dengan terbuka, demi satu tujuan: membangun Oenbit yang lebih tangguh, manusiawi, dan bermartabat,” pungkasnya.
3.09K
141