Kenaikan 75 bps dalam sebulan bukan pilihan nyaman BI. Di saat harga pangan-energi naik, akurasi belanja negara jadi kunci agar beban masyarakat tidak dobel
LIDAHRAKYAT.COM- Keputusan Bank Indonesia menaikkan BI Rate dari 5,25% ke 5,50% pada RDG mingguan 9 Juni 2026 mengejutkan pasar. Kenaikan ini di luar jadwal RDG bulanan 17-18 Juni. Ini berarti BI melihat risiko yang harus segera dijawab: hanya dalam sebulan terakhir suku bunga acuan sudah naik 75 basis poin dari 4,75% sejak September 2025-April 2026.
Ini bukan keputusan yang “diinginkan” bank sentral. Gubernur BI Perry Warjiyo sendiri menegaskan menaikkan suku bunga membuat ekonomi sulit tumbuh dan dampaknya langsung ke kantong masyarakat. Tapi di ekonomi, tidak ada pilihan tanpa konsekuensi.
1. Mengapa BI bergerak cepat: jaga nilai tukar dan inflasi
BI Rate adalah “harga uang”. Saat suku bunga acuan naik, tujuan utamanya dua: menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global, dan mengendalikan inflasi agar ekspektasi harga tidak lepas kendali.
Kenaikan harga Pertamax, LPG non subsidi sejak April, dan minyak goreng termasuk “Minyakita” yang kini mendekati harga pasar, menambah tekanan inflasi. Jika BI tidak merespons, rupiah bisa tertekan lebih dalam, impor jadi mahal, dan inflasi justru lebih menyakitkan ke depan. Jadi kenaikan 75 bps sebulan ini adalah “pahit tapi perlu” untuk menjaga stabilitas makro.
2. Dampak nyata ke masyarakat: cicilan naik, tabungan untung
Transmisi suku bunga tidak instan, tapi pasti. Dalam beberapa bulan ke depan:
1. Biaya dana bank naik → bunga deposito/simpanan naik. Ini kabar baik bagi yang punya tabungan.
2. Bunga kredit naik → cicilan KPR, KKB motor/mobil, kredit usaha UMKM ikut naik saat reset. Beban bulanan rumah tangga bertambah.
3. Investasi dunia usaha melambat → biaya pinjaman lebih mahal membuat ekspansi bisnis ditunda. Ini bisa menekan penciptaan lapangan kerja.
Gubernur BI benar: menaikkan suku bunga membuat ekonomi “sulit tumbuh” dalam jangka pendek. Tapi tujuannya agar pertumbuhan ke depan lebih sehat dan tidak dihantam krisis nilai tukar atau inflasi tinggi.
3. Beban dobel: saat suku bunga naik bersamaan harga pokok naik
Yang membuat situasi 2026 ini berat: masyarakat menghadapi “tekanan ganda”. Di satu sisi bunga kredit naik, di sisi lain harga energi dan pangan pokok juga naik. Pertamax, LPG non subsidi, minyak goreng, semua bergerak ke atas.
Di titik ini, kebijakan moneter saja tidak cukup. Stabilitas harga pangan-energi dan efisiensi belanja negara jadi penentu apakah kenaikan BI Rate hanya terasa sebagai “disiplin makro” atau berubah jadi “beban dobel” bagi rakyat.
4. Peluang perbaikan: akurasi belanja dan tata kelola
Kritik terhadap anggaran untuk program yang kurang urgen dan maraknya korupsi pengadaan barang-jasa adalah pengingat penting. Di saat BI mengetatkan likuiditas lewat suku bunga, fiskal seharusnya melakukan kebalikannya: memastikan setiap rupiah APBN bekerja tepat sasaran. Logikanya sederhana: jika moneter “mengetat”, fiskal harus “tepat”. Belanja negara perlu diprioritaskan ke perlindungan sosial yang menyasar kelompok rentan, subsidi energi yang lebih fokus, dan pengadaan barang-jasa yang bersih. Korupsi di pengadaan bukan hanya merugikan negara, tapi memperparah beban masyarakat saat suku bunga dan harga naik bersamaan.
Pemilu yang mahal harus menghasilkan pemimpin yang kompeten mengelola negara. Kompetensi itu diuji bukan saat ekonomi mudah, tapi saat seperti sekarang: harus memilih antara stabilitas dan pertumbuhan, lalu meminimalkan rasa sakitnya.
Penutup: Stabilitas dulu, baru tumbuh sehat
Kenaikan BI Rate 5,50?alah sinyal BI memilih menjaga stabilitas lebih dulu. Sakit di awal, tapi mencegah krisis yang biayanya jauh lebih besar. Tugas pemerintah dan DPR sekarang memastikan kebijakan fiskal dan tata kelola ikut “menjaga daya beli”: subsidi tepat sasaran, pengawasan pengadaan ketat, dan reformasi birokrasi berjalan.
Suku bunga bisa diturunkan lagi jika inflasi dan nilai tukar terkendali. Tapi kepercayaan publik hanya pulih jika rakyat merasakan negara hadir meringankan beban, bukan menambahnya.