Jumat, 09 Oct 2026
LidahRakyat | Aspirasi, Berani dan Aksi
25 Tahun Imamat RD. Maximus Sikone Pakaenoni: Batang Gelaga yang Patah, Sumbu yang Tak Padam
Perjalanan Imamat
Penulis: REMIGIUS UA
Style - 09 Oct 2026 - Views: 28
image empty
RD. Maximus Sikone Pakaenoni

LIDAHRAKYAT.COM- Ada perjalanan hidup yang tidak pernah benar-benar ditempuh sendirian. Di balik keteguhan seseorang dalam menjalani panggilan, sering kali ada doa yang tidak terdengar, pengorbanan yang tidak terlihat, dan cinta yang tidak pernah meminta balasan.

Makna itulah yang terasa dalam Misa Syukur 25 Tahun Imamat RD. Maximus Sikone Pakaenoni, Pr., yang berlangsung pada Jumat (9/10/2026), di rumah tua RD. Maximus di Nenbonak, wilayah Paroki Santa Maria Pengantaran Segala Rahmat Kiupukan.

Dalam homilinya, RD. Maximus menyampaikan terima kasih kepada kedua orang tuanya, almarhum Martinus Sikone Pakaenoni dan almarhumah Agata Kobo. Ia mengungkapkan bahwa perjalanan imamatnya tidak terlepas dari doa kedua orang tua yang tidak pernah putus dan semangat mencintai anak-anak yang tidak pernah padam.

Kesaksian ini sederhana, namun menyimpan makna yang mendalam. Di balik 25 tahun pengabdian seorang imam, ada kisah tentang keluarga, iman, dan cinta yang turut membentuk perjalanan panggilannya.

Orang tua mungkin tidak menentukan seluruh jalan hidup anak-anaknya. Namun, melalui doa, pengorbanan, dan keteladanan, mereka menanamkan nilai-nilai yang menjadi bekal dalam menghadapi kehidupan. Ketika mereka telah tiada, cinta itu tidak ikut terkubur. Ia tetap hidup dalam kenangan, nilai-nilai yang diwariskan, dan kebaikan yang dipertahankan.

Batang Gelaga yang Patah, Sumbu yang Tak Padam

Perjalanan 25 tahun imamat RD. Maximus memiliki makna yang semakin mendalam ketika direnungkan dalam terang moto tahbisannya yang bersumber dari Kitab Yesaya 42:3:

“Batang gelaga yang patah terkulai tidak akan pecah, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya.”

Moto ini berbicara tentang kasih Allah yang tidak meninggalkan manusia dalam kerapuhannya. Batang gelaga yang patah terkulai menggambarkan kehidupan yang sedang kehilangan kekuatan. Sementara itu, sumbu yang padam nyalanya melambangkan harapan yang hampir padam. Namun, keduanya tidak dibiarkan berakhir begitu saja.

Di tengah kelemahan manusia, Allah tetap membuka ruang bagi pemulihan dan kehidupan baru.

Pesan ini menjadi sangat relevan dalam perjalanan imamah. Seorang imam tidak hanya dipanggil untuk melayani mereka yang kuat dan berhasil, tetapi juga untuk mendampingi mereka yang terluka, menguatkan mereka yang kehilangan harapan, dan merangkul mereka yang merasa tersisih.

Menjadi gembala berarti menghadirkan kasih Kristus dalam situasi konkret kehidupan manusia. Bukan dengan menghakimi kelemahan, melainkan dengan membantu sesama menemukan kembali kekuatan untuk bangkit.

Dalam terang moto ini, kisah RD. Maximus tentang kedua orang tua menjadi semakin bermakna. Doa yang tidak pernah putus dan cinta yang tidak pernah padam merupakan kekuatan yang menyertai perjalanan hidupnya. Keduanya menjadi pengingat bahwa di balik perjalanan panjang sebuah panggilan, ada kasih sayang yang bekerja dalam keheningan.

Doa Orang Tua, Warisan yang Melampaui Waktu

Ketika RD. Maximus mengenang almarhum Martinus Sikone Pakaenoni dan almarhumah Agata Kobo dalam homilinya, ia sesungguhnya sedang menyampaikan sebuah bukti tentang pentingnya keluarga dalam perjalanan iman.

Doa orang tua sering kali tidak terdengar oleh dunia. Ia hadir dalam kesunyian, dalam harapan sederhana, dan dalam kerinduan agar anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang baik serta mampu menjalani panggilan hidupnya.

Cinta orang tua pun tidak selalu hadir dalam kata-kata. Ia tampak dalam pengorbanan sehari-hari, perhatian yang tulus, dan kesediaan untuk terus mendukung anak-anak, bahkan ketika perjalanan hidup tidak mudah.

Kematian memang mengakhiri kebersamaan secara fisik, namun tidak menghapus jejak cinta yang telah ditanamkan. Nilai-nilai yang diwariskan tetap hidup dan dapat terus bertumbuh melalui kehidupan anak-anak yang meneruskannya.

Oleh karena itu, ucapan terima kasih RD. Maximus kepada kedua orang tuanya bukan sekadar kenangan emosional. Ia merupakan pengakuan bahwa perjalanan panggilan seseorang juga diwarnai oleh doa, kasih, dan pengorbanan orang-orang yang menyertainya.

Kisah ini mengajak kita untuk tidak meremehkan kekuatan doa dalam keluarga. Orang tua tidak selalu mampu menghilangkan kesulitan yang dihadapi anak-anaknya, tetapi mereka dapat terus menemani perjalanan itu dengan iman dan kasih.

Bagi mereka yang masih memiliki orang tua, inilah saat untuk menghargai cinta mereka selagi masih ada kesempatan. Bagi mereka yang telah kehilangan, kenangan akan kasih orang tua dapat menjadi sumber syukur dan kekuatan untuk melanjutkan kehidupan.

Dua Puluh Lima Tahun, Sebuah Panggilan untuk Terus Setia

Dua puluh lima tahun imamah bukan sekadar penanda panjang masa pelayanan. Perayaan ini merupakan kesempatan untuk mensyukuri rahmat Tuhan sekaligus memperbarui kesetiaan terhadap panggilan.

Seorang imam dipanggil untuk mewartakan Sabda Allah, merayakan sakramen-sakramen, menggembalakan umat, dan menghadirkan kasih Kristus di tengah kehidupan masyarakat. Panggilan tersebut membutuhkan kerendahan hati, ketekunan, dan kesediaan untuk terus belajar dalam setiap pengalaman pelayanan.

Dalam semangat moto tahbisannya, RD. Maximus diingatkan akan tanggung jawab untuk menjaga agar harapan umat tidak padam. Sebab, kebermaknaan suatu pelayanan tidak hanya diukur dari lamanya waktu pengabdiannya, tetapi juga dari sejauh mana kehadirannya membawa penghiburan, kekuatan, dan kebaikan bagi sesama.

Pesan ini juga berlaku dalam kehidupan keluarga dan masyarakat. Kita semua memiliki tanggung jawab untuk tidak menyebabkan harapan orang lain. Sebaliknya, kami dipanggil untuk menjadi bagian dari upaya memulihkan, memperkuat, dan memberikan kesempatan kepada sesama untuk bertumbuh.

Terkadang, seseorang tidak membutuhkan banyak nasihat. Ia hanya membutuhkan kehadiran yang tulus, telinga yang mau mendengarkan, dan keyakinan bahwa dirinya tidak ditinggalkan sendirian. Di situlah kasih menemukan bentuk yang paling nyata.

Menjaga Nyala, Meneruskan Kasih

Misa Syukur 25 Tahun Imamat RD. Maximus Sikone Pakaenoni, Pr., pada akhirnya bukan hanya sekedar perayaan atas perjalanan seorang imam. Peristiwa ini juga menghadirkan refleksi tentang kekuatan doa orang tua, warisan cinta keluarga, dan kesetiaan dalam menjalani panggilan hidup.

Moto tahbisannya, “Batang gelaga yang patah terkulai tidak akan diputuskan, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya,” mengingatkan kita bahwa kerapuhan bukanlah akhir dan harapan tidak boleh dibiarkan padam.

Semoga Pengabdiannya RD. Maximus selama 25 tahun semakin meneguhkan kesetiaannya kepada Kristus dan menjadi berkat bagi umat serta masyarakat. Semoga kenangan akan mendiang Martinus Sikone Pakaenoni dan mendiang Agata Kobo tetap menjadi bagian dari ucapan terima kasih atas perjalanan panggilan ini.

Sebab, doa yang tulus dapat menguatkan perjalanan, cinta yang setia dapat meninggalkan warisan, dan pengabdian yang penuh kasih dapat menjadi cahaya bagi kehidupan orang lain.

Ketika batang gelaga mulai terkulai, kasih memberi kekuatan untuk bertahan. Ketika sumbu mulai meredup, iman menjaga harapan agar tetap menyala.

Selamat 25 Tahun Imamat, RD. Maximus Sikone Pakaenoni, Pr. Ad multos annos!