Minggu, 15 Mar 2026
LidahRakyat | Aspirasi, Berani dan Aksi
Rosadi Jamani: Si Kapten Pena dari Tepi Kapuas
Penulis: Meja Redaksi Lidah Rakyat
Style - 24 Feb 2026 - Views: 114
image empty
Ilustrasi lidahrakyat.com/AI

LIDAHRAKYAT.COM - Coba bayangkan: seorang lelaki berdiri di tepi Sungai Kapuas, airnya berkilau seperti kaca yang baru diseka embun pagi. Di tangannya, bukan dayung, tapi pena. Di wajahnya, bukan topi kapten, tapi senyum yang tak pernah absen. Kacamata di hidungnya sering melorot, seolah ikut lelah menahan semangat yang meluap-luap. Dialah Rosadi Jamani—atau, seperti orang-orang Kalbar memanggilnya dengan akrab, Bangros, sang nakhoda kata yang menakhodai kapal bernama Satupena Kalimantan Barat.

Bangros bukan tipe pemimpin yang duduk di kursi empuk sambil menunggu laporan. Ia lebih mirip pelukis aksara yang tangannya tak pernah diam. Sebagai mantan wartawan, ia tahu betul bahwa kata bisa jadi pedang, tapi juga bisa jadi pelukan. Ia menulis bukan untuk menggurui, tapi untuk menghidupkan. Setiap kalimatnya seperti ikan kecil yang berenang lincah di sungai ide—kadang lucu, kadang nakal, tapi selalu segar.

Program-programnya? Jangan bayangkan rapat kaku dengan tumpukan kertas. Di tangan Bangros, literasi berubah jadi taman bermain. Pelatihan penulisan buku? Itu seperti bengkel ide, tempat para penulis muda memoles imajinasi mereka sampai berkilau. Pembuatan konten media sosial? Ia ubah jadi jembatan antara dunia digital dan dunia aksara—dua dunia yang sering saling melirik tapi jarang benar-benar bersapa. Pendataan penulis lokal? Ah, itu seperti memetakan bintang di langit Kalbar, agar tak ada satu pun cahaya yang hilang ditelan malam.

Bangros juga bukan tipe yang berjalan sendirian. Ia tahu, literasi tak bisa tumbuh di tanah yang sepi. Maka ia menggandeng Dinas Pendidikan, perpustakaan, komunitas penulis, dan wartawan. Bersama mereka, ia membentuk orkestra literasi yang memainkan lagu perubahan. Setiap nada adalah ide, setiap irama adalah kerja nyata.

Di dunia maya, Bangros tampil seperti kawan lama yang pandai bercerita. Ia bisa menertawakan hal serius tanpa kehilangan makna, dan bisa menyentil masalah sosial tanpa membuat dahi berkerut. Tulisannya ringan, tapi punya daya gigit. Di balik gaya santainya, tersimpan ketajaman analisis seorang jurnalis dan kelembutan hati seorang sastrawan.

Kalau para akademisi menyebutnya “literasi transformatif”, Bangros mungkin hanya akan tersenyum dan berkata, “Yang penting, orang mau baca dan nulis dulu.” Tapi di balik kesederhanaan itu, ia sedang membangun ekosistem pengetahuan—menghubungkan penulis, pembaca, lembaga, dan masyarakat dalam satu nafas yang sama: nafas literasi.

Rosadi Jamani bukan sekadar menulis sejarah literasi Kalimantan Barat. Ia sedang menghidupinya. Ia menyalakan obor di tengah rimba kata, agar generasi berikutnya tak tersesat dalam gelap. Dari tangannya, aksara bukan lagi sekadar simbol, tapi denyut kehidupan yang berdetak di jantung Borneo. (red)