Sabtu, 02 May 2026
LidahRakyat | Aspirasi, Berani dan Aksi
May Day dan Kegelisahan Buruh: Menemukan Jalan di Tengah Ketidakpastian
Peringatan Hari Buruh
Penulis: Oktovianus Arkyan Masan, S.Fil
Opini - 02 May 2026 - Views: 15
image empty
dok.lidahrakyat.com/Koka Masan
Keterangan Foto: Rm. Kristoforus Bobo Oki, Pr (Imam Keuskupan Atambua, Pastor Pembantu Paroki Maubesi). (Dok : Istimewa)

Oleh: Rm. Kristoforus Bobo Oki, Pr

LIDAHRAKYAT.COM—OPINI,—“Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku.” (Yohanes 14:1)

 Setiap peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day selalu menghadirkan dua wajah yang kontras: perayaan dan kegelisahan. Di satu sisi, ia menjadi momentum solidaritas dan pengakuan atas peran buruh dalam menggerakkan roda ekonomi. Di sisi lain, May Day adalah cermin yang memantulkan kenyataan pahit tentang ketidakpastian, ketimpangan, dan rasa tidak aman yang masih menghantui kehidupan para pekerja.

Kegelisahan buruh hari ini bukanlah emosi yang lahir dari ruang kosong. Ia tumbuh dari pengalaman konkret: kebijakan yang berubah-ubah, kepastian hukum yang lemah, dan relasi kerja yang kerap timpang. Dalam banyak kasus, hukum ketenagakerjaan justru terasa lebih lentur ketika berhadapan dengan kepentingan modal, tetapi menjadi kaku saat harus melindungi martabat pekerja. Akibatnya, buruh hidup dalam bayang-bayang ketidakpastian—tentang upah, status kerja, hingga masa depan keluarga mereka.

Situasi ini semakin kompleks ketika negara belum sepenuhnya hadir sebagai penjamin keadilan. Buruh dituntut untuk disiplin, produktif, dan loyal terhadap perusahaan. Namun ketika badai datang—pemutusan hubungan kerja, kontrak yang tidak jelas, atau jaminan sosial yang minim—mereka kerap dibiarkan berdiri sendiri. Dalam struktur seperti ini, buruh sering menjadi pihak yang paling cepat menanggung risiko, tetapi paling lambat menerima perlindungan.

Di tengah tekanan domestik, dinamika global turut memperberat keadaan. Konflik geopolitik, krisis energi, fluktuasi harga pangan, hingga perlambatan ekonomi dunia berdampak langsung pada kehidupan buruh. Harga kebutuhan pokok naik, daya beli melemah, sementara peluang kerja semakin sempit. Realitas ini menegaskan bahwa persoalan buruh tidak bisa dipisahkan dari tata ekonomi yang lebih luas—yang sering kali tidak sepenuhnya berpihak pada mereka yang berada di lapisan paling bawah.

Dalam konteks inilah, pesan Injil Yohanes 14:1–6 menemukan relevansinya. Sabda Yesus, “jangan gelisah,” bukanlah seruan untuk menutup mata terhadap realitas, apalagi ajakan untuk menyerah pada keadaan. Sebaliknya, itu adalah panggilan untuk tetap berdiri teguh dalam iman sekaligus berani mencari jalan kebenaran di tengah dunia yang kerap kehilangan arah moral.

Ketika Yesus berkata, “Akulah jalan, kebenaran, dan hidup,” pernyataan itu mengandung konsekuensi etis yang kuat bagi kehidupan sosial. Jika “jalan” adalah simbol arah, maka kebijakan publik seharusnya mengarah pada keadilan. Jika “kebenaran” menjadi dasar, maka hukum tidak boleh tunduk pada kepentingan sempit. Dan jika “hidup” menjadi tujuan, maka sistem ekonomi harus memastikan bahwa setiap manusia dapat hidup secara layak dan bermartabat.

May Day, dengan demikian, tidak cukup dimaknai sebagai agenda tahunan atau ruang ekspresi sesaat. Ia adalah panggilan reflektif bagi bangsa ini: apakah pembangunan yang dijalankan sungguh menempatkan manusia sebagai pusatnya? Apakah pertumbuhan ekonomi yang dibanggakan benar-benar menjangkau kehidupan buruh? Ataukah ia hanya berhenti pada angka-angka yang mengabaikan realitas di lapangan?

Sudah saatnya kita menggeser cara pandang terhadap buruh. Mereka bukan sekadar faktor produksi atau angka dalam laporan ekonomi. Mereka adalah manusia dengan keluarga, harapan, dan martabat yang tidak bisa dinegosiasikan. Karena itu, kehadiran negara tidak boleh setengah hati. Kepastian hukum harus ditegakkan, perlindungan sosial diperkuat, dan kebijakan ekonomi diarahkan untuk menciptakan kesejahteraan yang inklusif.

Kegelisahan buruh tidak boleh dibiarkan berlarut menjadi keputusasaan. Ia harus diubah menjadi energi moral—sebuah dorongan untuk memperjuangkan keadilan secara bermartabat. Dalam hal ini, suara buruh bukan ancaman bagi negara, melainkan pengingat bahwa ada yang belum beres dalam tata kelola kehidupan bersama.

May Day mengajarkan satu hal penting: damai tidak lahir dari sunyinya suara rakyat kecil, melainkan dari hadirnya keadilan yang nyata. Selama buruh masih hidup dalam ketidakpastian, selama hukum belum sepenuhnya berpihak pada yang lemah, dan selama ekonomi masih menempatkan keuntungan di atas kemanusiaan, maka kegelisahan itu akan terus bergema.

Di tengah semua itu, pesan Injil tetap menjadi kompas: jangan gelisah, tetapi juga jangan menyerah. Sebab hanya dengan berjalan di jalan kebenaran, harapan akan kehidupan yang lebih adil dapat sungguh terwujud.