LIDAHRAKYAT.COM - Ramadhan kini tak hanya bersemayam di masjid dan musholla, tetapi juga berpendar di layar-layar ponsel. Di era digital, ibadah menjelma menjadi konten, dan keshalehan tampil dalam format visual yang bisa diakses siapa saja. Media sosial—yang menjadi rumah kedua bagi generasi milenial dan alfa—menjadi panggung baru bagi ekspresi spiritualitas. Di sana, doa tak lagi hanya bergema di sajadah, tetapi juga di linimasa; zikir tak hanya berputar di bibir, tetapi juga di kolom komentar. Dunia maya menjadi ruang baru bagi manusia modern untuk menampilkan sisi religiusnya, seolah kesalehan kini memiliki algoritma tersendiri.
Keshalehan yang Ditayangkan
Fenomena ini melahirkan bentuk baru dari kesalehan: keshalehan yang dikurasi, direkam, dan disiarkan. Melalui Instagram, TikTok, dan YouTube, para selebgram dan influencer menampilkan ritual ibadah mereka—dari sahur bersama keluarga, tadarus di malam hari, hingga berbagi takjil di jalanan. Semua terekam dalam bingkai estetika digital yang rapi dan menggugah. Namun di balik keindahan visual itu, muncul pertanyaan filosofis: apakah kesalehan masih murni ketika ia menjadi tontonan? Apakah ibadah masih sakral ketika ia dikemas dalam format vlog dengan musik latar dan filter cahaya lembut? Di sinilah batas antara dakwah dan pencitraan menjadi kabur, antara niat spiritual dan kebutuhan eksistensial saling bertaut.
Kapitalisasi Keshalehan
Dalam perspektif sosiologi media, fenomena ini dapat dibaca sebagai bentuk kapitalisasi kesalehan. Ibadah yang dahulu bersifat privat kini menjadi komoditas digital yang dapat dimonetisasi. Setiap tayangan doa, setiap vlog berbuka puasa, setiap unggahan sedekah, berpotensi mendatangkan engagement dan subscriber. Semakin banyak penonton, semakin besar pula peluang ekonomi yang terbuka. Kesalehan pun bertransformasi menjadi aset simbolik—sebuah modal sosial yang dapat ditukar dengan keuntungan material. Maka, ibadah di media sosial bukan hanya ekspresi iman, tetapi juga strategi branding diri di tengah kompetisi perhatian yang kian sengit.
Pergeseran Ruang Sakral
Era digital telah mengaburkan batas antara ruang sakral dan ruang publik. Masjid dan musala kini bersaing dengan platform digital dalam menampung ekspresi religius. Ritual yang dahulu dilakukan dalam keheningan kini berpindah ke ruang yang riuh oleh notifikasi. Dalam pandangan antropologis, ini adalah bentuk mediasi spiritual—di mana teknologi menjadi perantara antara manusia dan Tuhannya. Namun, mediasi ini juga membawa risiko: ketika ibadah menjadi tontonan, maknanya bisa tereduksi menjadi performa. Kesalehan yang sejatinya lahir dari kedalaman batin, kini bisa terjebak dalam permukaan layar.
Antara Dakwah dan Pencitraan
Tidak semua yang menyiarkan ibadahnya di media sosial bermotif ekonomi. Banyak pula yang tulus berdakwah, menyebarkan nilai-nilai kebaikan melalui medium yang relevan dengan zaman. Namun, di tengah arus kapitalisme digital, garis pemisah antara dakwah dan pencitraan menjadi semakin tipis. Media sosial, dengan segala algoritmanya, mendorong manusia untuk terus tampil, terus diperhatikan, terus diukur dengan angka. Maka, ibadah pun berpotensi kehilangan kesunyian spiritualnya, tergantikan oleh hiruk-pikuk validasi sosial.
Keshalehan di Era Algoritma
Pada akhirnya, ibadah di media sosial adalah cermin dari zaman: zaman ketika manusia berusaha menemukan Tuhan di tengah jaringan digital. Kesalehan kini tidak lagi hanya diukur dari seberapa khusyuk seseorang berdoa, tetapi juga dari seberapa banyak ia menginspirasi orang lain melalui layar. Mungkin inilah wajah baru spiritualitas modern—spiritualitas yang beradaptasi dengan teknologi, namun tetap berjuang menjaga kemurnian niat di tengah gemerlap dunia maya. Sebab, di balik setiap unggahan yang tampak sederhana, tersimpan pergulatan batin antara riya dan dakwah, antara like dan lirih doa
3.20K
141