LIDAHRAKYAT.COM Di tepi laut yang tak pernah tidur, di antara deru mesin dan gemuruh ombak, para buruh pelabuhan berdiri sebagai penjaga denyut ekonomi negeri. Mereka bukan sekadar pengangkut peti kemas atau pengatur bongkar muat, melainkan urat nadi yang menghubungkan Indonesia dengan dunia. Dari tangan-tangan mereka, kapal-kapal berlayar membawa harapan, dan dari peluh mereka, roda ekonomi berputar tanpa henti.
Gagasan pembentukan Dewan Buruh Pelabuhan Indonesia lahir dari kesadaran kolektif bahwa buruh bukan hanya objek pembangunan, tetapi subjek yang menentukan arah kemajuan. Dewan ini diharapkan menjadi simbol perjuangan, wadah aspirasi, sekaligus jembatan antara pekerja, pengusaha, dan pemerintah. Sebab, pelabuhan yang kuat tidak hanya dibangun dengan beton dan baja, tetapi juga dengan kesejahteraan dan martabat manusia yang bekerja di dalamnya.
Indonesia, dalam pandangan banyak pihak, tengah berada di jalur yang berpihak pada buruh. Kenaikan upah minimum nasional sebesar 6,5 persen menjadi bukti bahwa negara mulai menaruh perhatian lebih pada kesejahteraan pekerja. Kebijakan ini bukan sekadar angka dalam tabel ekonomi, melainkan napas baru bagi jutaan keluarga yang menggantungkan hidup pada upah harian. Di balik setiap rupiah kenaikan, tersimpan harapan untuk dapur yang lebih hangat dan masa depan anak-anak yang lebih cerah.
Pelabuhan, dalam konteks ekonomi nasional, ibarat jantung yang memompa darah ke seluruh tubuh bangsa. Tanpa pelabuhan yang sehat dan buruh yang sejahtera, nadi ekonomi akan melemah. Negara-negara besar seperti Amerika Serikat, China, dan Singapura telah membuktikan bahwa kemajuan pelabuhan berbanding lurus dengan kekuatan ekonominya. Maka, menjaga pelabuhan berarti menjaga masa depan bangsa. Pembentukan Dewan Buruh Pelabuhan Indonesia menjadi langkah strategis untuk memastikan suara pekerja tidak tenggelam di tengah hiruk-pikuk pembangunan. Dewan ini bukan sekadar forum formalitas, tetapi ruang hidup bagi ide, kritik, dan kolaborasi. Di sinilah buruh dapat berbicara sejajar dengan pengusaha dan pemerintah, membangun sistem kepelabuhanan yang efisien sekaligus berkeadilan.
Kesejahteraan buruh bukanlah beban, melainkan investasi. Sebuah perusahaan tidak bisa disebut berhasil hanya karena laba yang menumpuk, tetapi karena mampu menumbuhkan kesejahteraan bagi mereka yang menggerakkan roda produksinya. Di pelabuhan, setiap keringat yang menetes adalah modal sosial yang tak ternilai, dan setiap kerja keras adalah doa yang menjelma menjadi kekuatan bangsa. Dalam semangat itu, ajakan untuk terus berjuang dan berkontribusi aktif dalam pembangunan nasional menjadi gema yang menggugah. Kerja keras dan kebersamaan adalah dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Sebesar apa pun usaha manusia, tetap harus diiringi doa dan keyakinan, sebab di antara ombak kehidupan, hanya mereka yang berpegang pada harapan dan keikhlasan yang akan sampai ke pelabuhan keberhasilan.
Dewan Buruh Pelabuhan Indonesia bukan sekadar lembaga baru, melainkan mercusuar yang menuntun arah perjuangan kaum pekerja. Di bawah sinarnya, semoga buruh pelabuhan tak lagi hanya menjadi saksi arus perdagangan dunia, tetapi juga menjadi penggerak utama dalam menulis babak baru kemajuan ekonomi Indonesia.
3.11K
141